Beranda Daerah Karawang Per Hari, 430 Ton Limbah Dibuang ke Citarum

Per Hari, 430 Ton Limbah Dibuang ke Citarum

19
0
LINGKUNGAN: Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya meresmikan IPAL Wetland-Biocord sekaligus pencanangan Pengembangan Ekoriparian Citarum Karawang di Kecamatan Telukjambe Timur.

KARAWANG – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya meresmikan IPAL Wetland-Biocord sekaligus pencanangan Pengembangan Ekoriparian Citarum Karawang di Kecamatan Telukjambe Timur.

Siti menuturkan, Sungai Citarum ternyata hanya mampu menampung beban pencemaran air limbah sebesar 127,44 ton per hari, sementara saat ini limbah yang dibuang sebesar 430,99 ton per hari. Tentunya hal tersebut dinilainya sangat memprihatinkan. Ia mengungkapkan pemerintah terus berupaya memperbaiki kualitas sungai di Indonesia. Keberhasilan itu memang perlu dukungan dari komunitas masyarakat.

“Pemerintah ini hanya fasilitator. Semua peran dan ide kreatif adalah masyarakat, aktivis lingkungan,” ujarnya kepada wartawan, Sabtu (9/2).

Lanjut Siti, sebagian besar pencemaran sungai, berasal dari limbah rumah tangga, selain dari limbah industri pabrikan. Pembangunan IPAL Wetland Biocord Telukjambe merupakan salah satu contohnya. Pembangunan IPAL Wetland-Biocord dilakukan pada tahun 2017 dengan kapasitas 350 Kepala Keluarga (KK) dan pada tahun 2018 dibuat kembali dengab kapasitas desain 2200 KK.

Sekarang yang sudah tersambung untuk diolah 1275 KK IPAL ini mampu menurunkan konsentrasi BOD sebesar 33.5 ton per tahun, COD 91.8 ton per tahun, TSS 17.7 ton per tahu, dan Minyak Lemak 19.7 ton per  tahun. Selain pembangunan IPAL Wetland-Biocord, juga dikembangkan Ekoriparian Citarum Karawang.

Ekoriparian ini dapat digunakan sebagai sarana edukasi dalam pengelolaan lingkungan, penurunan beban pencemaran sungai, pengurangan sampah dengan melakukan pembuatan kompos, pembudidayaan tanaman obat, serta sarana edukasi lainnya. Pengembangan Ekoriparian ini dilaksanakan dengan dukungan dari masyarakat dan dunia usaha. Ekoriparian Citarum Karawang ini akan dikembangkan pada akhir 2019 ini dan rencana akan berlanjut sampai lima tahun mendatang dengan beberapa kegiatan.

“Kami sangat mendukung upaya dari gagasan komunitas masyarakat. Apalagi tadi ada pernyataan dari ibu bupati (Cellica Nurrachadiana) yang akan membuat aturan jika pembuatan perumahan harus membuat Ipal Komunal. Kita akan dukung itu, kemudian saya akan berkomunikasi dengan Kemen PU Pak Basuki,” ungkapnya.

Sementara itu, Siti juga mengungkapkan untuk penataan regulasi, saat ini sedang dibahas penetapan baku mutu air limbah untuk industri tekstil yang merupakan kontributor pencemaran yang signifikan di Sungai Citarum. KLHK juga melakukan pendampingan kepada pemerintah Kabupaten/Kota sepanjang DAS Citarum, untuk mengimplementasikan perhitungan beban pencemaran dalam perizinan pembuangan air limbah ke Sungai. Sehingga beban pencemaran industri dapat dikendalikan dengan lebih baik lagi.

Bupati Karawang, Cellica Nurrachadiana mengatakan, pertumbuhkan penduduk Karawang begitu pesat akibat laju pendatang yang ingin bekerja di industri. Tentunya kebutuhan lahan dan perumahan ini juga yang menjadi persoalan pencemaran sungai di Karawang.

“Saya seorang dokter, karena saya paham sumber air yang baik tentunya tidak akan membuat penyakit aneh datang di masyarakat. Saat ini muncul penyakit-penyakit berat di masyarakat akibat buruknya sumber air,” jelasnya.

Ke depan Cellica berjanji, setiap izin perumahan yang akan berada di Karawang. Mereka harus memiliki Ipal Komunal, untuk mengurangi dampak pencemaran. IPAL Wetland-Biocord dan Ekoriparian Citarum Karawang di Telukjambe, Desa Sukaluyu dibangun sekitar satu tahun lalu.

Ide yang muncul dari gagasan Komunitas Swadaya Masyarakat (KSM) Sahabat Lingkungan berawal dari keprihatinan terhadap sungai Cidadap, yang merupakan anak Sungai Citarum. Memanfaatkan lahan kosong di sekitar perumahan. Mereka membuat ide IPAL Wetland-Biocord dan Ekoriparian yang kemudian di sambut oleh KLHK.

“Awalnya ini tanah kosong yang sudah dipatok oleh oknum-oknum untuk membuat usaha indekos. Kami kemudian meminta kepada pemerintah daerah jika lahan ini akan dikelola. Karena ini adalah lahan lindung,” kata Ketua KSM Sahabat Lingkungan, Hendro Wibowo.

Disana, mereka membuat lahan konservasi dari pembibitan pohon tanaman keras, tanaman obat dan bank sampah.  “Selain sebagai konsevasi ini merupakan tempat edukasi dan sumber energi ekonomi bagi warga juga,” pungkasnya. (rie)