Beranda Daerah Cikarang Kasus Perceraian Cenderung Stabil

Kasus Perceraian Cenderung Stabil

26
0
PELAYANAN: Suasana pelayanan di Kantor Pengadilan Agama Cikarang.

CIKARANG PUSAT – Kasus perceraian pasangan suami istri (pasutri) di Kabupaten Bekasi dari tahun ke tahun masih stabil.

Hal tersebut disampaikan Humas Pengadilan Agama Cikarang M Ansor, menurutnya kasus perceraian pasutri di Kabupaten Bekasi grafiknya masih stabil.

“Adapun peningkatan paling cuma sewaktu waktu aja, jadi tidak ada peningkatan yang tinggi. Paling cuma naik 80 persen samapai 85 dari perkara yang naik,” katanya kepada Cikarang Ekspres. Kemarin (8/2).

Lanjut Ansor, perceraian yang terjadi jadi umumnya di sebabkan nikah dibawah umur, faktor ekonomi, faktor perselingkuhan, faktor medsos yang disalahgunakan dan kurang nya nilai spiritual dalam rumah tangga.

“Saya liat dalam berbagai kasus, medsos juga ikut dalam persoalan itu. Karena disalahgunakan akhirnya jadi bumerang. Banyak rumah tangga yang runtuh gara-gara medsos,” paparnya.

Menurut Ansor, problem yang di hadapi sekarang ini dari unsur kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Jadi pihak perempuan juga punya hak untuk menggugat cerai, berani memperjuangkan haknya.

“Karena bukan hanya pasangan suami isteri saja, tapi anak anaknya mau jadi apa mereka. Ketika liat orang tuanya berpisah. Jadi kalau sekarang nilai-nilai spiritual dalam perkawinan di abaikan nanti anak-anaknya juga akan seperti ini. Ini prustasi sosial,” pungkasnya.

Tidak hanya itu, kata Ansor, ada Kabupaten di Wilayah di Jawa Barat,  bahwa perceraian di jadikan budaya. “Pernah ada penelitian seorang ibu di wawancara, dia mengaku sudah sering kawin cerai kawin cerai sebanyak 100 kali, dia merasa bengga, Itu memang budaya. Jadi awalnya mungkin tekanan ekonomi, kejadiannya berulang-ulang akhirnya jadi budaya,” katanya.

Seharusnya perceraian harus di hindari, sebab bukan hanya suami istri saja yang pisah, melainkan anak-anak nyapun jadi korban. (mil/rez)