Diduga Peninggalan Sejarah, PT Tekniko Anggap hanya Bendungan

Diduga Peninggalan Sejarah, PT Tekniko Anggap hanya Bendungan

84
0
DIMUSNAHKAN: Bangunan di bawah tanah yang diduga peninggalan sejarag di komplek pembangunan PLTGU Cilamaya dihancurkan PT. Tekniko. Sontak warga setempat kaget. Belum ada keterangan pasti bangunan tersebut wajib atau tidaknya dilindungi, PT Tekniko justru memusnahkannya atas persetujuan dari PT. Pertamina (Pertagas). 
BERBAGI

***Bangunan Bawah Tanah di Lokasi Proyek PLTGU Cilamaya Dimusnahkan

 Bangunan di bawah tanah yang diduga peninggalan sejarah di komplek pembangunan PLTGU Cilamaya dihancurkan PT. Tekniko. Sontak warga setempat kaget. Belum ada keterangan pasti bangunan tersebut wajib atau tidaknya dilindungi, PT Tekniko justru memusnahkannya atas persetujuan dari PT. Pertamina (Pertagas). 

PADAHAL publik Karawang khususnya Cilamaya menilai besar kemungkinan bangunan prasasti berbentuk huruf T itu memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Apalagi, beberapa tokoh kesepuhan Cilamaya meyakini, jika benda tersebut merupakan Benteng VOC peninggalan kolonial Belanda.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan pun berlum rampung melakukan penelitian.

Tindakan tersebut secara aturan telah melangkahi kesepakatan antara PT. Tekniko dengan masyarakat Cilamaya. Yang menginginkan, bangunan bawah tanah itu di jaga, hingga hasil penelitian Disparbud Karawang selesai.

Officer Safety PT. Tekniko, Dimas Haryanto, mengatakan, bangunan bawah tanah tersebut dihancurkan pada hari Rabu, (19/8) pagi, tanpa sepengetahuan warga. Bahkan, Dimas mengaku tak mengetahui pasti, kapan bangunan itu dihancurkan.

“Disayangkan juga sih, saya tidak di beri tau. Tapi hasil konfirmasi dengan pimpinan, itu sudah persetujuan dari Pertagas. Bahkan, pimpinan Samsung C&T dan Pertagas, konon menyaksikan langsung proses penghancuran benda itu,” ungkapnya kepada KBE, Jumat (21/9).

Senada dikatakan Dimas, Officer Sefty Samsung C&T, Abdul Rasyid menuturkan, pimpinan Pertagas dan Samsung C&T menyaksikan langsung proses proses penghancuran bangunan tersebut.

Abdul menceritakan, proses penghancuran bangunan bawah tanah tersebut bermula saat Pertagas sudah memastikan jika bangunan itu bukanlah benda bersejarah.

Kemudian, lanjut Abdul, terjadi pertemuan antara pimpinan Pertagas dan Samsung C&T. Tak lama setelah itu, bangunan tersebut dihancurkan.

“Saya kurang paham ya pembicaraan mereka seperti apa. Yang jelas, bangunan itu dihancurkan, karena dianghap bukan benda bersejarah. Kalau kata pimpinan, itu cuma bangunan pintu air dari zaman dulu,” jelasnya.

Teknisnya, sambung Abdul, Pertagas memerintahkan Samsung C&T selaku kontraktor untuk mengjancurkan benda tersebut. Kemudian, bertindak sebagai ekekutor operator becko dari PT. Tekniko.

“Kami juga tidak berani menghancurkan jika tanpa persetujuan atau perintah pimpinan,” ujarnya.

Sementara, operator backo Tekniko yang bertugas menghancurkan benda tersebut menerangkan, saat proses penghancuran, muncul semburan air yang sangat deras dari dasar bangunan tersebut.

Dikatakannya, material bangunan itu terdiri dari batu bata merah dan batuan granit putih. Saat di hancurkan, tak ada benda apa pun di bawah banguna tersebut, kecuali semburan air.

“Saat di gali keluar air. Material batu bata merah dan batuan granit putih hanya ada di bagian atas. Satu meter di dalamnya sudah tanah lagi,” jelasnya.

Mewakili warga Cilamaya, Ari Paguyuban Ismaya mengatakan, tindakan yang dilakukan kontraktor atas bangunan tersebut sangat membuat warga kesal. Pasalnya, kepercayaan warga terhadap PT. Tekniko tercoreng, karena menghancurkan bangunan itu tanpa sepengetahuan mereka.


“Kami kecewa, tak di beri tau sebelumnya. Jika kami tau, pasti akan kami tahan dan larang,” kesalnya.

Masih kata dia, jika hasil penelitian Disparbud menyatakan benar bangunan tersebut adalah prasasti, tak bisa dibayangkan lagi, seperti apa ungkapan rasa kecewa masyarakat Cilamaya kepada pihak yang menghancurkan.

“Pasti warga akan bertindak. Liat saja,” tukasnya.

Hingga berita ini di terbitkan, tak ada konfirmasi resmi dari PT. Pertagas mengenai alasan bangunan tersebut dihancurkan. Diduga bangunan tersebut dianggap mengganggu proses pembangunan megaproyek PLTGU Cilamaya (*)