Resahkan Warga, Tarma Dipindahkan ke RSJ

Resahkan Warga, Tarma Dipindahkan ke RSJ

21
0
ORANG GILA : Warga Desa Sukakerta yang mengidap gangguan jiwa, saat di suntik obat penenang.
BERBAGI

CILAMAYA WETAN – Sudah puluhan tahun, Tarma (45) warga Desa Sukakerta, Kecamatan Cilamaya Wetan mengidap gangguan jiwa. Tingkahnya yang sering membuat onar, membuat warga disekitar tempat tinggalnya resah.

Oleh karena itu, Pemerintah Desa Sukakerta dibantu UPTD Puskesmas Sukatani, mengevakuasi Tarma untuk dipindahkan ke salah satu Rumah Sakit Jiwa (RSJ) kenamaan di Kota Bogor.

Kepala Desa Sukakerta, Bukhori menjelaskan, perilaku Tarma belakangan ini kian menjadi-jadi. Rumah bilik yang menjadi tempat tinggal bersama neneknya di rusak. Hingga hancur berantakan.

Tak hanya itu, hampir setiap hari, Tarma menangis, menjerit dan meronta-ronta meminta sesuatu yang tak jelas apa maunya. Bahkan, tak jarang, Tarma juga melukai orang-orang yang ada di sekitar, termasuk neneknya sendiri.

“Sebenarnya dia punya keluarga. Cuma tak ada yang mau mengurus. Jadi kami inisiatif untuk mengevakuasi Tarma ke RSJ,” ungkapnya kepada KBE, Rabu (12/9).

Tarma yang merupakan warga Dusun Tangkolak Barat, Desa Sukakerta di vonis mengalami depresi berat. Menurut cerita, Tarma sudah mengidap gangguan jiwa sejak usianya 20 tahun. “Sudah lama. Tapi keluarganya tak ada yang peduli. Dari lada meresahkan warga, jadi kita evakuasi,” ujarnya.

Sementara, Kasubag Puskesmas Sukatani, Saripudin menjelaskan, sebelumnya, masyarakat ingin memasung Tarma di ujung desa dan mengasingkannya dari lingkungan masyarakat. Mendengar berita tersebut, Saripudin langsung bergegas menggerakan anggotanya untuk mengevakuasi Tarma ke tempat yang lebih layak.

“Kalau sampai jadi di pasung itu sungguh sangat tidak manusiawi. Jika sudah tak ada yang menginginkan, lebih baik di pindah ke RSJ,” ucapnya.

Dikatakan Saripudin, kesehatan jiwa Tarma bisa saja tertolong. Dengan pengobatan yang serius dan baik dari pihak rumah sakit. Bukan hal tidak mungkin jika kejiwaan Tarma kembali seperti sedia kala. “Sakit jiwa itu masih bisa di sembuhkan. Asal penanganannya benar,” pungkasnya. (wyd)