Faktor Resiko dan Pencegahan Kejang Demam

Faktor Resiko dan Pencegahan Kejang Demam

722
0
DR. NEVIN CHANDRA JUNARSA SPA. MKES
BERBAGI

ORANG TUA mana yang tidak panik apabila anaknya mengalami kejang. Pada demam tinggi, anak dapat mengalami kejang demam. Agar orangtua tidak panik dan dapat memberikan penanganan awal yang tepat, mari kita pelajari lebih dalam apa yang disebut kejang demam, apa penyebabnya, apa faktor risikonya dan pencegahannya serta bagaimana penanganan awal yang dapat dilakukan di rumah.

Kejang demam atau sering disebut “step” adalah kejang yang terjadi akibat demam tinggi (38oC atau lebih). Kejang demam dapat terjadi pada anak berusia >1 bulan, namun paling sering pada usia 6 bulan sampai 5 tahun. Kejang demam hanya merupakan respon otak terhadap suhu tinggi. Kejang ini tidak disebabkan oleh infeksi atau gangguan susunan saraf pusat, gangguan elektrolit, perdarahan otak atau penyebab lainnya. Ciri khas kejang demam adalah adanya demam yang mendahului kejang dan selama kejang anak masih demam. Setelah kejang anak langsung sadar kembali atau hanya tertidur sebentar sebelum sadar kembali.

Penyebab kejang demam adalah peningkatan suhu yang terjadi secara mendadak. Demam dapat disebabkan oleh penyakit apa saja seperti infeksi virus atau bakteri. Tidak diketahui secara pasti mengapa demam dapat menyebabkan kejang pada satu anak dan tidak pada anak lainnya, namun diduga ada peranan faktor genetik.

Kejang demam dapat dikelompokan menjadi 2 jenis, yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Pada kejang demam sederhana anak hanya mengalami kejang sebentar dan kurang dari 15 menit, kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam dan biasanya terjadi pada seluruh tubuh. Sedangkan pada kejang demam kompleks, anak mengalami kejang yang lama (lebih dari 15 menit), terjadi lebih dari satu kali dalam 24 jam dan dapat terjadi pada hanya sebagian tubuh anak. Kejang demam kompleks biasanya lebih berbahaya dibandingkan kejang demam sederhana.

Apabila anak anda mengalami kejang, hal pertama yang dilakukan adalah jangan panik. Sebagian besar kejang demam pada anak tidak berbahaya. Prinsip utama penanganan anak yang mengalami kejang demam adalah menurunkan suhu tubuh anak. Segera berikan kompres air hangat kuku dan membuka baju anak. Kemudian untuk melindungi anak dari cedera dan komplikasi saat mengalami kejang, orangtua dapat melakukan hal-hal berikut:

  • Letakkan anak di tempat yang aman, jauh dari benda berbahaya seperti listrik dan barang pecah belah
  • Baringkan anak dalam posisi miring agar makanan, minuman, muntahan, air liur atau benda lain dalam mulut dapat keluar sehingga terhindar dari bahaya tersedak
  • Longgarkan pakaian anak dan jaga jalan napas anak
  • Jangan memasukan apapun pada mulut anak atau memberikan minum pada saat anak kejang untuk mencegah tersedak dan sumbatan jalan napas
  • Apabila sudah dikerjakan semuanya, sambil menunggu kejang berhenti, hitunglah durasi kejang dan perhatikan seperti apa kejangnya, mulai dari bagian tubuh mana saja yang kejang, apakah seluruh tubuh atau hanya sebagian, gerakan bola mata anak dan bagaimana kesadaran anak setelah kejang berhenti. Hal ini dapat menjadi informasi yang sangat penting bagi dokter.
  • Segera bawa ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Penting untuk tetap membawa anak ke dokter atau RS terdekat meskipun kejang sudah berhenti. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan pengobatan untuk mengatasi penyebab timbulnya demam agar kejang tidak terulang lagi.

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kejang demam pada anak adalah:

  • Risiko terjadi kejang demam meningkat pada anak yang anggota keluarganya juga mengalami kejang demam
  • Anak usia 6 bulan hingga 5 tahun lebih berisiko mengalami kejang demam dibandingkan anak berusia di luar itu. Biasanya anak yang pernah mengalami kejang demam jarang mengalami kejang demam lagi setelah usianya diatas 5 tahun. Apabila anak masih mengalami kejang demam diatas usia 5 tahun, sebaiknya dibawa ke dokter anak untuk dilakukan pemeriksaan dikarenakan kemungkinan anak menderita epilepsi yang dicetuskan oleh demam.

Kejang demam dapat dicegah dengan menurunkan suhu tubuh anak dengan memberikan obat penurun panas seperti parasetamol atau ibuprofen. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan bantuan kompres air hangat pada dahi, ketiak, dan lipatan siku. Pengukuran suhu dengan termometer penting dilakukan orangtua untuk mengetahui apakah benar anak mengalami demam, dan pada suhu berapa kejang timbul. Pengukuran ini juga penting untuk mengetahui efektivitas pemberian obat penurun panas. Apabila dalam 1 jam setelah pemberian obat penurun panas, suhu tubuh anak tidak turun, berarti obat penurun panas tidak efektif mengatasi demam. Segera bawa anak ke dokter atau RS karena anak berisiko mengalami kejang.

Semoga setelah orangtua membaca artikel ini, diharapkan tidak panik lagi dan tetap tenang saat anaknya mengalami kejang demam sehingga dapat memberikan penanganan yang tepat. (die/rls)