Minum Obat Tepat Waktu

Minum Obat Tepat Waktu

313
0
Andi Nurzakiah Amal, M.Farm, Apt., Lulusan Program Magister Farmasi Unpad Bandung, Kepala Instalasi Farmasi RS. Karya Husada Cikampek
BERBAGI

RS KARYA HUSADA CIKAMPEK

OBAT adalah suatu senyawa kimia yang memiliki berbagai sifat dan efek. Setiap obat memiliki sifat farmakologis berbeda-beda termasuk waktu paruh dan waktu mulai kerja obat, hal tersebut akan berpengaruh terhadap aturan minum obat.  Aturan minum obat yang benar sebaiknya disesuaikan dengan dosis dan anjuran dokter serta berdasarkan pembagian dalam 24 jam. Tujuan obat diminum satu kali, dua kali, tiga kali, atau aturan minum yang lainnya, adalah untuk menjaga agar kadar obat dalam tubuh berada dalam kisaran terapi, yaitu kadar obat yang memberikan efek menyembuhkan. Hal ini tergantung pada sifat dan jenis obatnya, ada obat yang cepat tereliminasi dari tubuh karena memiliki waktu-paruh (half life) pendek dan ada yang panjang. Obat yang memiliki waktu paruh pendek perlu diminum lebih sering dengan interval waktu yang pendek, sedangkan jika waktu paruhnya panjang bisa diminum dengan interval lebih panjang, misalnya 1 kali sehari. Nah, jika obat yang mestinya diminum 2 kali sehari diminum pagi dan siang (misal : jarak hanya 6 jam), maka kadar obat dalam tubuh akan menumpuk sehingga bisa memberikan efek tidak diinginkan, sementara interval waktu minum berikutnya menjadi terlalu panjang yang memungkinkan kadar obat dalam darah sudah minimal sehingga tidak berefek dan pengobatan menjadi tidak optimal.

Perhatikan aturan minum obat yang tertera pada etiket obat Anda dan berikut ini adalah panduan waktu minum obat yang benar :

  • Apabila dalam etiket obat tertera diminum 3 kali sehari 1 tablet maka jarak minum obat adalah 24 jam dibagi 3 = 8 jam. Artinya setelah selesai minum obat 1 tablet pertama, maka Anda harus menunggu waktu 8 jam untuk minum obat kedua, dan menunggu 8 jam lagi untuk minum obat ketiga, kegiatan ini selalu berulang setiap harinya sampai pengobatan selesai. Contoh pengaturan jam minum obat 3 x 1 yaitu jam 6 pagi, jam 2 siang, dan jam 10 malam dan setiap kali minum adalah 1 tablet, dan minumlah obat pada waktu yang sama setiap harinya.
  • Apabila ditulis 3×2 berarti obat diminum setiap 8 jam dan setiap kali minum adalah 2 tablet.
  • Apabila tertulis 2×1 maka jarak minum adalah 24 jam dibagi 2 = 12 jam. Jarak minum obat pertama dan kedua adalah 12 jam. Contohnya jam 6 pagi dan jam 6 petang.
  • Apabila tertulis 4×1 maka obat bisa diminum dalam jarak setiap 6 jam sekali.
  • Apabila tertulis 1×1 maka obat diminum sekali sehari pada jam yang sama setiap hari.

Aturan penggunaan obat ini sangat sering dianggap sepele namun dampaknya sangat besar untuk kesembuhan suatu penyakit, karena tidak semua obat mempunyai waktu kerja yang sama panjang atau sama singkat. Obat yang diminum lebih cepat sebelum waktunya akan menimbulkan peningkatan jumlah dosis obat didalam tubuh. Sebaliknya obat yang diminum lebih lambat setelah waktunya akan menyebabkan kehilangan efek obat sementara waktu didalam tubuh sehingga sebagian pengobatan harus dimulai dari awal lagi.

Ketika minum obat, senyawa kimia dalam obat tersebut akan melewati lambung dan masuk ke dalam usus. Sebagian kecil obat akan diserap di lambung, dan sebagian besar di usus halus yang permukaannya sangat luas. Beberapa obat dapat diserap dengan baik dan cepat jika tidak ada gangguan di lambung maupun usus, misalnya berupa makanan. Hal ini menunjukkan bahwa ada obat tertentu yang dapat berinteraksi dengan makanan, misal penyerapannya terganggu dengan adanya makanan, ada yang justru terbantu dengan adanya makanan, dan ada pula yang tidak terpengaruh dengan ada atau tidaknya makanan.

Kebanyakan orang akan menyatakan bahwa waktu yang tepat minum obat ketika sesudah makan. Mengapa? Konon katanya, makanan dapat memberikan alas bagi lambung sehingga mencegah terjadinya sakit maag atau sakit perut. Benarkah? Belum tentu. Tetapi hal itu lah yang telah terjadi secara turun temurun di masyarakat pada umumnya. Obat dan makanan jika dikonsumsi secara bersamaan dapat menimbulkan interaksi. Akibat dari interaksi tersebut diantaranya meningkatkan efek obat, meniadakan efek obat, bahkan tidak mempengaruhi efek obat. Berikut ini penjelasan mengenai waktu minum obat sebelum makan, sesudah makan dan sewaktu makan yang tepat.

Sebelum Makan

Obat yang digunakan sebelum makan digunakan untuk obat-obat yang absorbsi/penyerapannya bisa terhambat karena adanya makanan  atau obat yang  aktivitasnya ditingkatkan oleh adanya makanan. Jika absorbsi obat terhambat maka jumlah obat yang masuk ke dalam tubuh manjadi berkurang kemudian berakibat pada efek obat yang tidak optimal. Penggunaan obat sebelum makan artinya obat digunakan pada saat lambung kosong, sehingga obat sebaiknya digunakan 1-2 jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Antibiotika eritromisin, rifampicin,  amoksisilin  dan analgetika parasetamol akan diserap lebih baik jika tidak ada makanan, sehingga lebih baik jika diminum sebelum makan (Zulliesikawati).

Sesudah Makan

Obat yang diminum sesudah makan biasanya digunakan untuk obat-obat yang bersifat asam karena dapat mengiritasi lambung/saluran cerna dan juga untuk obat-obat yang penyerapannya lebih baik jika  adanya makanan di lambung. Bagi Anda yang memiliki riwayat maag atau tukak lambung, obat diminum setelah makan agar tidak menyebabkan kambuhnya penyakit tersebut. Misalnya obat anti nyeri, anti bengkak (asam mefenamat, ibuprofen, aspirin/asetosal dll),  kortikosteroid (deksametason, hidrokortison, dll), dan obat-obat antiradang seperti diklofenak, piroksikam, dll yang sering digunakan untuk obat rematik. Obat-obat ini harus diminum sesudah makan sampai kurang dari 2 jam setelah makan. Obat anti epilepsi fenitoin atau obat hipertensi propanolol  akan terbantu penyerapannya dengan adanya makanan, sehingga sebaiknya diminum sesudah makan. Petunjuk minum obat sesudah makan harus dilakukan 1 – 2 jam sesudah Anda makan dan jangan lewat dari 2 jam. Kalau lebih dari dua jam setelah makan, makanan sudah diolah dan diserap, kondisinya bisa disamakan dengan sebelum makan (Zulliesikawati)

Sewaktu Makan

Obat yang diminum sewaktu makan bertujuan untuk memaksimalkan kerja obat tertentu karena obat tersebut memiliki proses absorbsi yang lebih baik dengan adanya makanan, selain itu untuk mencegah reaksi obat yang merugikan terhadap tubuh saat obat tersebut diminum dalam kondisi lambung kosong. Obat Antibiotik (griseovulfin) sebaiknya diminum pada saat Anda makan (terutama makanan berlemak) agar penyerapannya lebih optimal. Obat diabetes (metformin dll) diminum pada saat makan untuk menurunkan kadar glukosa darah setelah makan dan untuk mencegah hipoglikemia. Contoh obat lainnya adalah enzim pencernaan yang umumnya digunakan pada penderita pankreatitis. Obat ini harus digunakan bersamaan dengan makanan guna membantu proses pencernaan. Penggunaan obat sewaktu makan artinya obat digunakan 10-15 menit sebelum makan atau 10-15 menit setelah makan.

Dengan mengikuti cara minum obat yang benar di atas, diharapkan Anda bisa merasakan perubahan atau perbaikan dari kondisi atau penyakit yang diderita. Konsultasikan kepada dokter atau Apoteker tentang cara minum obat yang Anda terima. Segera hubungi dokter jika Anda merasakan reaksi obat tertentu seperti alergi, efek samping, atau gangguan kesehatan lain yang Anda curigai berhubungan dengan obat yang sedang Anda konsumsi. (die/rls)