Lingkungan Kumuh, Warga Mudah Terserang Penyakit

Lingkungan Kumuh, Warga Mudah Terserang Penyakit

112
0
KESEHATAN : Warga Desa Pancawati, keluhkan aroma tak sedap yang berasal dari saluran pembuangan tidak mengalir akibat banyak tumpukan sampah. WAHYUDI/ KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

 

KLARI-Warga Desa Pancawati RT/RW 01/02, Kecamatan Klari, Karawang, keluhkan aroma tak sedap yang berasal dari saluran pembuangan yang membentang disepanjang desa tersebut.

Aroma tak sedap itu terjadi akibat tidak mengalirnya drainase sepanjang, kurang lebih 250 meter tersebut. Beragamnya jenis sampah dan limbah yang dibuang warga disana, tak mengalir kehulu.

Sehingga, drainase yang konon dulu mengalir deras bagaikan sungai, kondisinya kini sangat memperihatinkan.

Pantauan KBE dilokasi, aroma yang menyengat itu amat mengganggu indera penciuman. Selain itu, limbah-limbah rumah tangga serta sampah yang tertimbun selama berbulan-bulan disana membuat pemandangan disekitarnya nampak kumuh. Ironisnya, hal tersebut seolah dibiarkan begitu saja tanpa ada upaya perbaikan.

Menurut Dhian Novianti dokter umum RSUD Karawang menjelaskan, kondisi lingkungan yang kotor bisa membawa berbagai macam penyakit bagi warga sekitar. Dijelaskannya, penyakit-penyakit tersebut diantaranya tifus dan diare.

Penyakit itu, kata Dhian, bisa menyerang tubuh manusia hanya melalui udara mupun akibat sering bersentuhan langsung dengan tempat dari virus itu berasal, yaitu tempat-tempat kotor.

“Penyakit yang sering terjadi dilingkungan seperti itu diantaranya Tifus dan Diare. Selain itu, penyakit seperti Disentri yang terjadi akibat buruknya system sanitasi juga bisa menyerang tubuh. Penyakit kulit dan saluran pernafasan juga sangat mungkin terjadi,” ungkap Dhian kepada KBE, Selasa (16/1).

Dijelaskan Dhian, salah satu kasus penyakit yang paling sering ia jumpai dilingkungan kumuh adalah infesksi kulit dan jamur. Perpindahan parasit atau jamur dapat terjadi secara kontak langsung melalui gesekan kulit. Perpindahan terjadi jika barang-barang seperti, baju, alat makan, dan minum, terkontaminasi oleh penderita yang belum di obati, maupun kontak langsung dengan sumber penyakit. “Penggunaan barang-barang pribadi secara bergantian dapat juga menyebabkan penularan penyakit ini,” imbuhnya.

Saat dimintai keterangan, salah satu tokoh masyarakat setempat, Sulaeman (43) alias Pak Le mengatakan, kondisi darinase yang dibiarkan tak mengalir itu sudah terjadi selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan.

Dikatakannya, memang drainase tersebut sudah diturap kanan dan kiri, namun buruknya system perairan disana membuat aliran air tak berjalan sehingga satu-satunya aliran bagi warga disana membuang limbah air mampet dan menjadi kumuh.

“Memang alirannya sudah tidak berjalan lagi. Paling-paling bisa terisi air kalau hujan deras seperti kemarin, baru dia bisa mengalir,” ujarnya.

Dengan kondisi lingkungannya dibiarkan seperti itu, Pak Le sadar betul akan bahaya penyakit yang mengintai sanak keluarganya disana.

Oleh sebab itu, Pak Le berpesan kepada masyarakat, agar mau dan mampu menjaga dengan baik lingkungan tempat mereka tinggal.

“Kalau bukan kita yang menjaga dan merawatnya, siapa lagi? Mudah-mudahan pemerintah juga bisa melakukan normalisasi pada drainase kami yang mempet,” harapnya. (wyd)