Penjual Nasi Warteg Terancam Gulung Tikar

Penjual Nasi Warteg Terancam Gulung Tikar

89
0
WARTEG: Pedagang nasi mengeluh ketika harga beras meroket akibat damoak gagal panen di Karawang. ODONG KUSNADI/ KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

Lantaran Harga Beras Meroket

RENGASDENGKLOK – Harga beras yang meroket selama beberapa pekan terakhir khususnya di Wilayah Rengasdengklok dan sekitarnya telah memukul para pelaku usaha kecil seperti usaha warung tegal (warteg) terancam gulung tikar.

Dan saat ini Saking mahalnya harga beras yang naik kurang lebih sampai 30%, pemilik warteg ada yang memilih tutup dan ada pula yang memangkas ukuran lauk.

Hal tersebut terungkap dari keluhan pemilik warung Lecehan pigir jalan bernama Dudung, di Rengasdengklok Selatan ia mengaku harus mensiasati dengan mengurangi dengan cara memangkas ukuran lauk. Setelah harga beras mengalami kenaikan sangat signifikan.

Namun Dudung memilih tetap membuka warung lecehannya, terpaksa mensiasati mencoba menekan biaya produksi akibat melonjaknya harga beras dengan memangkas ukuran lauk seperti Ikan lele yang lebih kecil, oreng Ayam dan goreng.

Ia juga  menghabiskan 1 sampai 2 karung beras berukuran masing-masing 50 kg dengan kualitas paling bagus yang sebelumnya seharga Rp 8.000,dalam sehari.

” Kita beli ke pasar, harganya sudah naik jadi Rp 12.000‎/kg. terasa sekali dampaknya untuk biaya kita. Karena kita konsumsinya kan lumayan tinggi, rata-rata 1 karung sehari. Itu yang 50 kg-an,” ungkap Dudung kepada KBE, Selala(9/1).

Dengan kenaikan harga beras Rp 4.000/kg dari semula Rp 8.000/kg menjadi Rp 12.000/kg, Dudung harus menanggung kenaikan biaya produksi sebesar Rp 400.000/hari menjadi Rp 1.200.000/hari dari sebelumnya hanya Rp 800.000/ hari.

Dengan kata lain, dalam sebulan ada kenaikan biaya bulanan menjadi rata-rata Rp 36.000.000/bulan. ” Itu baru dari beras atau nasi aja. Belum yang lain-lain. Kan lumayan naiknya,” tegas dia.

Ia mengaku tidak akan menaikkan harga jualannya, lantaran khawatir ditinggal pelanggan. Untuk mensiasati kenaikan harga beras tersebut, dirinya mengurangi porsi lauk tertentu dengan ukuran yang lebih kecil.

“Kalau nasi kan nggak mungkin dikurangi. Justru kekuatan Warung lecehan di situ, jadi lauknya yang kita sesuaikan. Mungkin porsinya dikurangi atau ukurannya diperkecil,” kata Dudung.

Sementara Parto pengelola Warteg dirinya tidak mau mengikuti langkah yang diambil oleh pengusaha warteg/ warung lecehan seperti pecel Lele lainnya dengan cara mengurangi ukuran lauk yang dijualnya.

karena, hal tersebut akan menambah pekerjaan bagi dirinya. Berbeda dengan Dudung, Parto malah memilih jam buka wartegnya lantaran tingginya, sabtu dan minggu tutup lantaran biaya poduksi tinggi.

“Makanya kita ini kalau Sabtu dan Minggu untuk sementara tutup dulu. Biasanya sih selalu buka,” ungkap Parto.

 

Dikatakanya, langkah tersebut diambil karenan ya itu tadi tingginya biaya poduksi setelah harga beras mengalami kenaikan sangat tinggi. Masalahnya, jika dipaksakan buka, menurut dia akan mengalami kerugian.

“Memang biasanya Sabtu dan Minggu itu tetap buka walaupun tipis untungnya, sebab yang datang kan lebih sedikit. Tapi kalau harga beras jadi seperti sekarang ini, hitungannya jadi nggak masuk. mendingan tutup dulu untuk sementara,” terangnya

Karenanya Ia tidak mau mengikuti langkah yang diambil oleh pengusaha warteg lainnya dengan cara mengurangi ukuran lauk yang dijualnya. karena, hal tersebut akan menambah pekerjaan bagi dirinya.

“Kalau mengurangi ukuran, berarti kita kerja lagi donk. sehingga nantinya langganan bisa kapok karena dianggapnya curang, ukuran lauk dikurang-kurangi,” tandas Parto. (odk)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY