3 Oknum Wartawan Terkena OTT Polisi

3 Oknum Wartawan Terkena OTT Polisi

OTT. Kapolres Majalengka AKBP Noviana Nursanurrohmad saat pers Release OTT Oknum Wartawan di Mapolres setempat, Senin (08/01 ). /FOTO:IST/

1226
0
BERBAGI

Diduga Lakukan Pungli di Sindang

MAJALENGKA – Profesionalisme pers kembali tercoreng dengan ulah oknum Wartawan yang terkena Operasi Tangkap Tangan (OTT) pihak Kepolisian.

Kali ini terjadi di Kabupaten Majalengka-Jawa Barat, oknum insan pers itu diciduk (ditangkap,red) petugas OTT dari Polres Majalengka, setelah diduga kuat melakukan pungli di kecamatan Sindang.

Informasi yang diterima menyebutkan, OTT itu berawal dari adanya oknum wartawan yang tengah melakukan pungli di Kecamatan Sindang. Perbuatan tidak terpuji dan melanggar hukum itu, dinformasikan ke Reskrim Polres Majalengka.

“Mendapatkan laporan dari warga itu, langsung ditindaklanjuti oleh tim Saber Pungli dengan datang ke TKP dan melakukan OTT terhadap oknum wartawan itu,” ujar Kapolres Majalengka AKBP Noviana Nursanurrohmad saat pers Release di Mapolres, Senin (08/01 ).

Ditegaskan Kapolres Noviana, oknum Wartawan yang diamankan ke Mapolres Majalengka itu berjumlah tiga orang, dan sudah ditetapkan sebagai tersangka, masing-masing berinisial YT, AR, dan YY.

“Saat OTT itu, Polisi mengamankan barang bukti dari tangan tersangka berupa uang kertas sebanyak kurang lebih tujuh juta rupiah dan sejumlah ID Card Pers yang kerap di gunakan sebagai senjata saat mereka beraksi,”tegasnya.

Dengan adanya kasus pemerasan yang memalukan dunia pers itu, langsung disikapi oleh Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Majalengka, Jejep Falahul Alam. Menurutnya, PWI Majalengka mendukung langkah Polres dalam penangkapan oknum wartawan tersebut.

“Kami mendukung ketegasan pihak kepolisian terhadap tiga oknum pelaku kriminal yang mengatasnaman sebagai wartawan itu. Khususnya terkait kasus dugaan pemerasan terhadap salah satu kepala desa di Kabupaten Majalengka ini,” ujar Jejep.

Dijelaskan Jejep, jangankan tiga oknum wartawan ‘abal-abal’ itu, anggota PWI sekalipun jika tersangkut kasus kriminal wajib diproses pihak kepolisian. Tapi kalau terkait karya jurnalistik harus terlebih dahulu diproses oleh Dewan Pers.

“Sudah barang tentu penangkapan oknum wartawan di wilayah hukum Majalengka merusak citra wartawan profesional. Saya juga mengimbau agar kejadian semacam ini dapat diambil hikmahnya, dan kasus ini tidak terulang kembali di kemudian hari,” ujarnya.

Dia menambahkan, perilaku oknum wartawan yang sengaja menakut-nakuti para kepala sekolah, guru, kepala desa, maupun para pejabat lainnya merupakan masalah klasik yang sudah lama terjadi. Bahkan kasus seperti ini hampir terjadi di seluruh pelosok negeri. Namun masyarakat diimbau tidak takut menghadapi wartawan jika memang tidak melakukan kesalahan, apalagi sampai menghindar atau lari dari wartawan.

Tugas wartawan adalah mencari, mengumpulkan, mengolah atau menulis berita dan bukan memeras atau mengintimidasi. Hal itu sesuai Undang-undang Pers Nomor 40 tahun 1999 maupun yang tercantum di dalam kode etik Jurnalistik. Jika ada oknum wartawan tetap melakukan pemerasan itu sudah melakukan tindakan kriminal dan terancam pasal 368 KUHP tentang pemerasan dengan ancaman hukuman 9 tahun dan Pasal 282 tentang perbuatan tidak menyenangkan.

“Tugas wartawan itu mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan meyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, dan gambar,” jelas Jejep. (rls/red)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY