Ribuan Warga Ogah Ngungsi, Satu Orang Tewas Diduga Akibat Kedinginan

Ribuan Warga Ogah Ngungsi, Satu Orang Tewas Diduga Akibat Kedinginan

72
0
MENINGGI: Genangan air banjir di Perumahan BMI I dan II sempat hingga setinggi dada orang dewasa. CR3/KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

Banjir Kembali Genangi Perum BMI I dan II

CIKAMPEK- Ratusan rumah milik warga Perum Bumi Mutiara Indah (BMI) 1 dan 2 yang berada di Desa Dawuan Tengah Kecamatan Cikampek, Kamis (4/1) dini hari kembali tergenang air. Kali ini, genangan air hingga mencapai dada orang dewasa.

Pantauan KBE di lokasi, air mulai menggenai ratusan rumah di Perum BMI 1 dan 2 pada sekitar pukul 19.00WIB, Rabu (3/1). Intensitas curah hujan yang deras ditambah dengan luapan air yang terjadi di Situ Kamojing, terpaksa harus menggenangi ratusan rumah hingga mencapai ketinggian 1 meter.

Rumah yang terendam air berjumlah 450 unit, yang dihuni oleh 640 KK. Rendaman air terparah, terjadi pada Rabu (3/1). Dimana ketinggiannya hampir mencapai 150 cm.

“Penyebabnya karena curah hujan yang tinggi, sehingga air dari Situ Kamojing meluap. Air mulai masuk ke pemukiman sekitar pukuk 18.30 WIB, Rabu (3/1),” ujar seorang warga setempat, Maman kepada KBE di posko banjir Perum BMI 1, Kamis (4/1) pagi.

Penyebab banjir yang terjadi di Perumahan tersebut akibat dari Situ Kamojing yang tidak kuat menampung debit air yang tinggi, akibatnya air meluap hingga kepemukiman warga.

Hujan lebat yang menimpa wilayah Purwakarta dan Karawang berimbas kepada pemukiman warga yang terendam air, parahnya lagi kondisi banjir di malam hari ini lebih menyulitkan warga karena kondisinya malam hari.

Ironisnya, salah seorang warga yang diketahui bernama Buchori (60) asal warga Blok E2 RT 001 RW 017 Perum BMI 1 Cikampek, harus menghembuskan nafas terakhirnya di rumahnya yang mengalami banjir hingga ketinggian 1 meter itu.

Diduga, kematian Buchori selain karena mengidap sakit Stroke selama kurun waktu dua tahun belakangan, juga diduga tak kuat menahan rasa dingin dampak terjadinya banjir yang melanda perumahan itu.

“Meninggalnya sekitar pukul 21.00 WIB, Rabu (3/1). Jenazah dievakuasi ke Masjid Jami Al Muhajirin dengan menggunakan perahu karet dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Karawang pada sekitar pukul 00.30 WIBKamis (4/1) dini hari,” ujar warga lainnya, Thannia (24).

Sementara itu, Sekertaris Camat (Sekcam) Cikampek yang berada di lokasi banjir, berkilah bahwa Buchori meninggal diduga akibat kedinginan dampak dari lambannya penanganan evakuasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat.

“Saya sudah cari tahu, informasi yang saya dapatkan dari ketua RT dan keluarganya, almarhum Buchori memang meninggal karena sakit stroke bukan karena kedinginan,” kilahnya.

Dari pantauan di lokasi, ribuan jiwa warga Perum BMI 1 dan 2 yang mengalami kebanjiran membutuhkan berbagai macam logistik, seperti makanan siap saji, air bersih, popok untuk bayi dan anak-anak juga selimut.

“Hingga dini hari ini, warga di dua perumahan, masih banyak yang terisolir, tidak bisa keluar rumah padahal air sudah mencapai dada orang dewasa,” kata Kepala Desa Dawuan Tengah, Jejen.

Menurut warga, hujan saat ini masih terus mengguyur, akibatnya debit air diperkirakan akan masih terus bertambah. Selain ketinggian air yang terus mengalami kenaikan, lokasi banjir juga mengalami gelap gulita sejak pukul 00.00 WIB karena pihak PLN mematikan aliran listrik.

“Untuk dua perumahan ini saja ada sekitar ratusan rumah yang terendam banjir, diperkirakan ada sekitar 5000 jiwa yang harus mengungsi ke tempat dataran tinggi,” ujar Triadi (26).

Sementara itu dari tim SAR dari BPBD Karawang yang juga dibantu oleh Sispamdu Zhadoel menurunkan seluruh personilnya untuk mengevakuasi para korban banjir, saat ini ada dua perahu karet yang digunakan tim dari BPBD Karawang untuk mengevakuasi korban banjir.

“Sudah ada dari BPBD Karawang mengirimkan dua perahu karet untuk mengevakuasi warga yang rumahnya kebanjiran,” tambahnya.

Sementara untuk saat ini warga banyak yang mengungsi ke masjid atau ke kantor sekretariat RW 016, karena kedua lokasi tersebut berada di dataran tinggi tidak terkena banjir.

“Jumlah warga yang mengungsi di dua tempat tersebut saat ini diperkirakan sudah mencapai ratusan orang lebih, kebanyakan para warga yang memiliki balita dan anak-anak. Sementara ribuan warga yang lainnya masih bertahan di rumahnya masing-masing sambil menunggu team evakuasi membawa perahu karet,” beber Triadi yang turut serta mengevakuasi para korban banjir.

Dari informasi yang dihimpun, warga cukup kesal dan kecewa lantaran tak kunjung datangnya bantuan logistik dari pemerintah. Bahkan, warga secara sukarelawan saling mengumpulkan uang untuk membeli keperluan logistik yang dibutuhkan di posko banjir perum itu.

“Dapur umum saja tidak ada, ya karena tidak adanya logistik. Ini saja kami menahan lapar dan kedinginan. Seharusnya bantuan logistik diturunkan oleh pemerintah. Bukan hanya itu, bantuan kesehatan juga tolong di siagakan, dan petugas yang melakukan evakuasi juga harus cepat tanggap, bila perlu tambah lagi perahu karetnya,” cetus Yadi.

Kendati kondisi ratusan rumah warga sudah mulai surut pada sekitar pukul 09.00WIB Kamis (4/1/2018). Tetapi warga di dua perum itu masih di hantui banjir susulan karena khawatir akan terjadi curah hujan yang deras ditambah dengan kiriman air dari limpasan Situ Kamojing yang mengalir di Sungai Cikaranggelam Cikampek. (djn)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY