Bangun Karakter Bangsa lewat  Pembangungan Keluarga

Bangun Karakter Bangsa lewat  Pembangungan Keluarga

431
0
Sekretatis Utama BKKBN Nofrijal
BERBAGI

JAKARTA – Badan Keluarga Berencana Badan Keamanan dan Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN ) , Bogor , 20/12/2017.Sebagai salah satu lembaga negara yang mengemban tugas prioritas yang tertuang dalam Nawa Cita Presidan Joko Widodo, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional ( BKKBN ) menuangkan sejumlah agendanya dalam Program Kependudukan Keluarga  Berencana dan Pembangunan Keluarga ( KKBPK ).

Melalui program itu diharapkan tercipta revolusi karakter bangsa sesuai dengan agenda prioritas ke-8 dalam Nawa Cita.Dalam pelaksanaannya, BKKBN berupaya melaksanakan penanaman nilai-nilai revolusi mental berbasis keluarga.

“Dengan pendekatan keluarga, sebagai unit terkecil dalam masyarakat sekaligus Wahana pertama dan utama, nilai-nilai etos kerja, integritas, dan gotong royong sekitarnya,” jelas Nofrijal Sekretaris Utama BKKBN.

Wahana membangun karakter bangsa, khususnya pad anak, ialah dengan kegiatan seperti optimalisasi pengasuhan dan lembinasn tumbuh kembang anak sejak dalam kandunhan sampai 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

Selain itu, pembentukam karakter sejak dini melalui Bakita Holistik Integratif ( BKBHI ) diharapkan menjadi wadah untuk menyakinkan keluarga 1.000 HPK menjadi orangtua hebat.

Kegiatan tersebut juga merupakan upaya strategis relevan untuk meningkatkan pemahaman orangtua mengenai pentingnya keluarga dam pengasuhan tumbuh kembang anak sejak usia dini, imbuh Nofrijal.Program 1000 HPK merupakan program yang dimulai sejak periode wanita hamil ( 270 hari ) sampai anak berusia 2 tahun ( 730 hari ).

Periode in merupakan periode terpenting bagi anak karena sangat menentukan kesehatan kesejahteraan anak di masa depannya. Kepada generasi muda, BKKBN juga mengencarkan Program Generasi Berencana melalui pendirian Pusat Infornasi dan Konseling Remaja ( PIKR ) di sekolah , kampus , dan masyarakat.Program itu mendorong remaja Indonesia merencanakan masa depan mereka.

Yaitu merencanakan waktu lulus kuliah , bekerja , waktu menikah , dan periode meliki anak. Usia menikah yang ideal minimal diusia 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.Karena itu, para remaja disarankan untuk menjauhi tiga hal yakni ‘ katakan tidak pada pernikahan dini / usia anak, katakan tidak pada seks bebas, dan katakan tidak pada narkoba’.

Program pembangunan keluarga yang  berhubungan dengan revolusi mental selain Orangtua Hebat , Generasi Berencana ( GENRE ), ada juga Bina Keluarga Lansia ( BKL ). BKL merupakan kelompok kegiatan ( poktan ) keluarga yang mempunyai otang lansia yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga yanag memiliki orang lansia dan untuk pengetahuan orang lansia itu sendiri.

” Tujuan ini untuk mewujudkan kehidupan berkualitas pada para orang lansia , ” ungkap Nofrijalv.

Keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera, dapat berwirausaha sekaligus ber – KB ) secara mandiri. Kepersataan KB juga didorong melalui Pokja Papua BKKBN yang aktif melakukan sosialisasi program KKBPK di provinsi Papua Barat dan Papua. Terutama dalam upaya peningkatan kesejahteraan perempuan ditanah Papua dan pemberdayaan ekonomi keluarga, salah satunya dengan pendekatan KB .

“Melalui KB perempuan atau ibu memiliki peluang untuk mengembangkan dirinya dan memiliki kesempatan dalam pendidikan dan kehidupan sosialnya dan tentunya keluarga memilikk kesempatan untuk merencanakan masa depannya,” tutup Nofrijal.(ctr)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY