Penasaran dengan Purwakarta, Wali Kota Pariaman Belajar Wisata Berbasis Kultur

Penasaran dengan Purwakarta, Wali Kota Pariaman Belajar Wisata Berbasis Kultur

349
0
KELILING : Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi berkeliling kompleks Pendopo Bale Paseban bersama rombongan Wali Kota Pariaman Muhklis Rahman. CATUR AZI/KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

PURWAKARTA – Pengembangan pariwisata berbasis budaya di Purwakarta yang gencar dikembangkan sejak Tahun 2008, mengundang rasa penasaran Wali Kota dan para tokoh adat Pariaman, salah satu kota di Provinsi Sumatera Barat. Karena itu, mereka tertarik untuk belajar tentang konsep tata kelola pariwisata di Purwakarta.

Wali Kota Pariaman Mukhlis Rahman mengatakan jarang dia temukan di Kabupaten maupun Kota di daerah lain, kantor pemerintahan yang dapat dikunjungi secara bebas oleh warga karena menyajikan wahana wisata seperti di Purwakarta. Sebagaimana diketahui, kantor pemerintah di Purwakarta dibangun berdasarkan asas kearifan arsitektur lokal Jawa Barat berupa ‘Julang Ngapak’ ditambah ornamen alam seperti taman dan air mancur.

“Saya lihat Purwakarta selama ini di media sosial, dari dulu penasaran ingin melihat secara langsung. Ternyata memang indah, potensi budaya menyatu menjadi modal wisata. Kantor pemerintahan di sini pun ternyata menjadi tempat wisata,” ucap Mukhlis dalam kunjungan kerjanya di Purwakarta, Selasa (5/12).

Sambil berkeliling di kompleks Pendopo Bale Paseban Purwakarta dan Taman Pesanggrahan Padjadjaran yang dulu bernama Alun-alun Kian Santang, Mukhlis menyatakan ketertarikan untuk meniru konsep pembangunan di Purwakarta untuk diterapkan sesuai dengan kultur yang ada di Kota Pariaman. Menurut dia, melalui cara ini generasi masa kini dapat belajar tentang peradaban bangsa.

“Kami membawa 114 orang mulai dari unsur pemerintahan hingga lembaga adat. Konsep di Purwakarta yang berisi pelajaran tentang sejarah peradaban kita coba adopsi sesuai dengan kultur Kota Pariaman. Saya kira ini bagus,” katanya.

Sejarah peradaban bangsa baik Sunda maupun Indonesia dapat dinikmati oleh wisatawan di Diorama Bale Panyawangan Tatar Sunda dan Diorama Bale Panyawangan Nusantara. Melalui format data digital, di kedua diorama tersebut ditampilkan periodesasi sejarah bangsa mulai dari masa kerajaan hingga abad modern.

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang mendampingi langsung rombongan Wali Kota Pariaman mengatakan bahwa pola pembangunan di Purwakarta dilakukan berdasarkan karakter wilayah. Sehingga, pembangunan yang dilakukan tidak mengganggu kultur yang telah lama berkembang di tengah masyarakat setempat. Desa menurut Dedi, memiliki modal yang kuat untuk dilakukan pembangunan.

“Fokusnya tetap di Desa, wisata, arsitektur, infrastruktur publik dan pengelolaan keuangan. Ini kan yang ada di perkantoran pemerintah merupakan arsitektur ala pedesaan, ternyata bisa kok diterapkan. Desa punya modal kuat. Makanya, kita tidak boleh malu menjadi orang desa,” pungkas Dedi. (ctr)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY