Menggali Harta Karun dari Kumbung Jamur

Menggali Harta Karun dari Kumbung Jamur

83
0
 PASTIKAN: Marmo sedang mengecek jamur merang di kumbung jamur miliknya.
BERBAGI

Kisah Marmo, Petani Jamur Merang di Cilamaya

Dulu Buruh Pabrik, Kini jadi Juragan Jamur

 Tangan keriputnya kian cekatan di usianya yang semakin tua. Ketangkasannya mengolah jerami yang melimpah khas kota lumbung padi, menjadikan Sumarno salah satu petani jamur merang tersukses di desanya. 

Wahyudi Umar, Cilamaya Kulon

 TIDAK tanggung-tanggung, bapak empat anak ini, kini memiliki enam kumbung jamur yang setiap bulannya memproduksi 2 hingga 3 kwintal jamur merang setiap satu kali panen. Dari enam kumbung jamurnya itu Marno mampu menghidupi seluruh keluarganya, bahkan mampu menjamin pendidikan anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi.

Memulai  kegiatan wirausaha pada tahun 2003 sebagai seorang petani jamur merang, dirintisnya dengan ketekunan dan niat yang serius dalam berbisnis. Sempat mencicipi pengalaman sebagai seorang buruh pabrik di salah satu perusahaan garmen di Bandung, Marno harus menghadapi kenyataan pahit diberhentikan secara sepihak atau PHK saat krisis moneter tahun 1998.

“Mulai saat itu saya putuskan untuk berwirausaha. Sempat berpikir ingin menjadi petani padi, karena padi membutuhkan waktu yang lama untuk panen sedangkan setiap hari kami harus makan, maka isteri mengajak saya belajar menjadi petani jamur,” kata Marno, mengawali kisahnya.

Mendidik Keluarga Jadi Wirausahawan

 Marno adalah satu dari 50 petani jamur merang asal Desa Pasirjaya, Kecamatan Cilamaya Kulon, yang dikenal sebagai desa sentranya jamur merang di Karawang. Setiap 15 hari, petani jamur merang desa tersebut mampu memproduksi hingga 3 Ton jamur merang dari sekitar 100 lebih kumbung jamur di desa yang berbatasan dengan pantai Tanjung Baru itu.

Merasakan nikmatnya sukses berwirausaha, Marno mendidik dan mengarahkan anak-anaknya untuk mencicipi kesuksesan yang sama di bidang wirausaha. Terbukti, satu dari empat anaknya kini sukses menggeluti bisnis kuliner di Kota Cikarang.

“Putri pertama saya juga berbisnis, hanya Rilan (anak keduanya) yang masih nyaman menjadi karyawan di salah satu perusahaan di Karawang. Anak ketiga saya kuliah, dan si bontot masih duduk dibangku SMA. Saya berharap mereka menjadi anak-anak yang pandai berbisnis,” ungkap Marno.

Dengan berwirausaha, sambung Marno, kesuksesan bukan hanya ada di tangannya sebagai seorang pebisnis. Dikatakannya, memulai berwirausaha itu sama dengan membuka lahan pekerjaan baru bagi sekian banyaknya pengangguran yang ada di Karawang, khususnya di Cilamaya.

Dari enam kumbung jamurnya, Marno bisa mempekerjakan paling sedikit enam warga sekitar. Setiap masuk proses pengelolaan kumbung jamur, Marno selalu mengajak warga di sekitar rumahnya yang kebanyakan tidak berpenghasilan untuk bekerja membantunya menanam jamur merang di enam kumbungnya itu.

“Dengan berwirausaha kita juga bisa membantu perekonomian masyarakat. Dalam satu hari bekerja mereka mendapat upah Rp 100 ribu, lihat betapa banyaknya kumbung jamur di Pasirjaya. Dengan itu, berapa banyak pekerja yang dibuthkan tiap pemilik jamur. Harusnya ini jadi perhatian pemerintah, melirik kami petani jamur merang,” harap Marno.

Sudah berpengalaman selama 15 tahun mengelola kumbung jamur, Marno kian hari, semakin pandai dalam memanajemen kumbung jamurnya itu. Memiliki enam kumbung jamur, membuatnya tidak pernah absen berproduksi setiap hari.

Kakek dua cucu itu menjelaskan, kumbung jamurnya ibarat kotak besar berisi harta karun yang tidak pernah habis jika dijelajah dengan peta dan kompas yang benar dalam mengarahkan.

Dijelaskan marno, untuk membuat satu kumbung jamur dibutuhkan 300 batang bambu tua yang kuat untuk menopang beban dari jerami basah yang sudah melalui proses pematangan sebelumnya, sebagai media tanam untuk bibit jamur merang yang didapatnya dari toko tani langganan Marno.

“Bibit itu seperti mesin produksi, jika bagus kinerjanya maka hasil panen jamurnya melimpah. Namun, jika jelek, hasilnya ya sebaliknya. Maka dari itu saya ingin bibit yang terbaik dari subsidi pemerintah,” harapnya.

Setelah semua proses membuat media tanam selesai. Marno mulai mengumpulkan kayu bakar dan menimba air yang diisinya kedalam drum-drum besar yang sudah dipanaskan menggunakan bara dari kayu yang dibakarnya.

“Proses ini kita sebut ‘Gebos’ mudahnya sih proses memasukan uap air kedalam kumbung. Tujuannya untuk membunuh atau sterilisasi bakteri jamur yang tidak dibutuhkan. Proses ini memakan waktu hingga 12 jam dengan suhu antara 65 samapai 70 derajat celicius,” terang Marno.

Setelah steril, barulah tangan marno dengan cekatan menebar bibit F3 atau yang dikenal Fulfat, nantinya akan tumbuh menjadi jamur merang. Jika sudah samapi diproses ini, Marno hanya tinggal menunggu maksimal 22 hari untuk memanen.

“Pekerjaan petani jamur yang mudah, bisa dijadikan sambilan. Karena selain bertani, saya juga bisa menjahit. Jika punya modal nanti, saya ingin buka konfeksi,” kata Marno dengan yakin. (*)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY