Enda, Lestarikan Seni Sunda di Cilamaya

Enda, Lestarikan Seni Sunda di Cilamaya

74
0
SANGGAR JAIPONGAN: Enda Suhenda, guru seni budaya asal SMPN 1 Cilamaya Wetan (Sacitan), membuat siswa untuk menyukai hingga mau melestarikan kesenian asal daerahnya dijalaninya dengan rasa senang. WAHYUDIN UMAR/KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

CILAMAYA WETAN-Mengajak pelajar di era milenial seperti saat ini, untuk mencintai seni tradisional bukanlah suatu hal yang mudah.

Pengaruh barat yang kenal dan didukung oleh globalisasi yang pesat, membuat sedikit demi sedikit kaum pelajar meninggalkan kesenian tradisional khas daerahnya sendiri.

Hal tersebut yang diungkap, Enda Suhenda, guru seni budaya asal SMPN 1 Cilamaya Wetan (Sacitan), dikatakannya, mengajar seni budaya disekolahnya merupakan tantangan terbesar baginya.

Aktifis kesenian sunda itu menerangkan, membuat siswa untuk menyukai hingga mau melestarikan kesenian asal daerahnya dijalaninya dengan rasa senang.

Dibutuhkan kesabaran ekstra dan metode-metode yang asik, sehingga siswa mau mencoba belajar kesenian daerah, yang kini mulai ditinggalkan.

“Untuk di Sacitan ada beberapa kesenian sunda yang terus saya gemakan, diantaranya seni calung, degung, angklung, jaipong dan lain-lain,” ungkapnya kepada KBE, Kamis (16/11) disekolah.

Mengajar seni budaya sejak 16 tahun lalu disekolah tersebut, kang enda, sapaan akrab guru seni tersebut, sudah mencetak ratusan seniman berbakat baik disekolah maupun disanggar tempatnya melestarikan kesenian sunda tersebut.

“Selain mengajar saya punya sanggar dan aktif untuk melestarikan seni sunda di Cilamaya. Sanggar saya namanya Hendra Aska Perkusion,” jelasnya.

Masih kata Enda,dengan  metode mengajar seni di era moderensiasi seperti sekarang harus menyenangkan untuk target yang ingin diajarkan.

Guru asal desa Tegalurung, kecamatan Cilamaya Kulon ini menerangkan, memperlihatkan pertunjukan yang menghibur serta aktif dalam mengajak anak menjadi kunci suksesnya meluluskan ribuan seniman terbaik yang saat ini aktif disanggarnya mengajar.

“Kalau untuk prestasi, anak didik saya ada yang juara jaipong tingkat karawang. Bahkan belum lama ini, ada juga yang juara lomba Teater bahasa Sunda tingkat Jawa Barat,” ujarnya.

Melihat penurunan angka apresiator untuk seni sunda, Enda mengaku perihatin dengan keadaan tersebut. Padahal, disisi lain warga mancan negara berbondong-bondong datang ke Indonesia untuk belajar kesenian yang telah mendunia itu.

“Siapa yang tidak tau angklung, orang bule aja sering ke Indonesia buat belajar main angklung. Ironisnya, kenapa anak bangsa tidak ada yang mau mempelajarinya,” herannya.

Oleh karena itu, Enda bersama rekan kesenian sunda lainnya kini aktif mengajar serta mengajak kepada siswa-siswi di Kecamatan Cilamaya Wetan demi terwujudnya generasi bangsa yang cinta pada keseniannya sendiri.

“Di Sacitan misalnya, kesenian seperti Calung dan Angklung amat disukai anak-anak. Bukan cuma itu, mereka juga bisa berprestasi melalu kesenian,” bangganya.

Enda berharap, perlombaan seni tingkat pelajar sebagai wadah untuk melestarikan seni tradisional diperbanyak oleh pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan.

Ia juga berharap, agar karya-karya seniman tradisional seperti dirinya diapresiasi dengan event-enent yang sarat nilai edukasinya.  “Tanpa apresiator seni tidak berharga. Oleh karena itu, saya berharap ada wadah untuk apresiator mengapresiasi karya seni kami untuk kedepannya,” harapnya. (wyd)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY