Bencana Rob Hantui Warga Cilamaya

Bencana Rob Hantui Warga Cilamaya

185
0
SAMPAH: Tumpukan sampah tampak berjubel di tanaman mangrove yang menjadi pondasi terakhir meminimalisir abrasi yang dapat mengakibatkan bencana air rob di Cilamaya. WAHYUDI UMAR/KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

CILAMAYA WETAN – Memasuki musim penghujan di wilayah pesisir pantai utara Karawang, tepatnya di Kecamatan Cilamaya Wetan membawa dampak buruk kepada warga sekitar. Pasalnya, ulah dari oknum warga yang kerap membuang sampah ke bantaran sungai menimbulkan tumpukan sampah di bibir pantai Cilamaya.

Tumpukan sampah itu berada tepat di pagar pembatas antara bibir pantai dengan kebun tanaman mangrove yang dikelola oleh Kelompok Kreasi Alam Bahari (K2AB) Cilamaya. Dikatakan ketua K2AB, Yanto, apa bila keadaan tersebut terus dibiarkan, maka akan mengancam kelangsungan hidup manusianya sendiri.

Dikatakannya, tumpukan sampah yang merusak tanaman mangrove semakin mempercepat abrasi, sehingga air laut terus naik memakan daratan dan masyarakat berpotensi terkena banjir rob air laut. Yanto menceritakan, dirinya bersama kelompok yang cinta terhadap alam bahari Cilamaya  sudah kewalahan menegur warga yang buang sampah sembarangan ke sungai.

Dikatakannya, hal tersebut terjadi karena masyarakat pesisir tidak memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk ragam sampah yang diproduksi setiap hari.

“Sampahnya beragam, mulai dari sampah pelastik, hingga sampai sampah rumah tangga serta pabrik rumahan, yang jika dibiarkan bisa mengancam ekosistem di laut,” jelas Yanto.

Permasalahan tersebut, kata Yanto, seperti dibiarkan begitu saja tanpa ada pembenahan dari pemerintah. Dirinya berharap, pemerintah mencari jalan keluar dari masalah pelik tersebut. Ia tidak ingin, apa yang dijaga dan dirawatnya dengan baik, rusak karena ulah tangan jahil yang tidak bertanggungjawab.

“Saya tidak ingin tanaman mangrove ini rusak karena sampah. Jika rusak, nilai  rupiah yang hilang tidak terhingga,” pungkasnya.

Senada dengan Yanto, warga lain mengatakan, tidak disediakannya tempat sampah atau pembuangan akhir disekitar lingkungannya membuat warga terpaksa membuang sampah ke sungai.  Padahal mereka juga mengetahui dampak dari apa yang dilakukannya secara sadar itu. Namun, masalah itu membuat dilema warga karena tidak punya pilihan lain selain membuang sampah ke sungai.

“Jika tidak ke sungai kemana kami harus buang? Dibakarpun tetap saja ada bekas sampanya. Bahkan lebih parah karena menimbulkan pencemaran udara,” ungkap warga setempat, Teja. (cr56)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY