Digitalisasi, Saatnya KUMKM Naik Kelas

Digitalisasi, Saatnya KUMKM Naik Kelas

21
0
UMKM: Salah satu stand UKMK Ajang Cooperative Fair 2018 di Halaman Gedung Sate Bandung.
BERBAGI

KARAWANG– Sudah saatnya koperasi, usaha mikro, kecil, dan menengah naik kelas. Penjabat Gubernur Jawa Barat Mochamad Iriawan mengatakan, salah satu upayanya yakni dengan melek Informasi Teknologi (IT) dan memanfaatkan IT untuk meningkatkan pemasaran produknya.

“Saat ini era serba cepat, serba mudah berkat IT. Berbekal teknologi, semua ada di genggaman tangan,” katanya saat membuka acara bertajuk Cooperative Fair 2018 di Parkir Barat Gedung Sate Bandung, Jumat kemarin.

Maka, kata Mochamad Iriawan, pemerintah perlu berkomitmen penuh terhadap digitalisasi koperasi dan UMKM karena digitalisasi merupakan cara strategis untuk membangkitkan gairah enterpreneur negeri.

Dengan berjejaring, produk dapat langsung bersaing di ranah global. Berbeda dengan berjualan offline atau berjualan secara fisik yang harus menyewa toko dan membutuhkan banyak pegawai. Agar produk dikenal masyarakat luas, sedikit sulit bila tidak dibarengi promosi yang gencar dan menarik.

Akan tetapi, lewat digitalisasi, KUMKM akan memiliki potensi pasar yang tak berbatas.

Saat ini, kata Mochamad Iriawan, konsumen di Indonesia dan Asia Pasifik sudah sangat mendukung berkembangnya pasar digital. Pelaku KUMKM bisa menjual barang dan jasa dari mana saja, tanpa pasar fisik. Sehingga, KUMKM kian kompettif. Para pelaku usaha akan berjibaku secara global dalam menarik kepercayaan konsumen dengan berbagai terobosan dan inovasi.

“Ada produk-produk unggulan dari berbagai daerah. Inshaa Allah Jawa Barat banyak produk unggul,” katanya.

Saat ini, kata Mochamad Iriawan, sudah waktunya semua pemangku kebijakan menunjukan atensinya untuk KUMKM di negeri ini. Supaya bisa terus eksis dan naik kelas, KUMKM perlu mendapatkan sentuhan fasilitasi berbagai program yang dapat disinergikan bersama.

Di Jawa Barat, sinergi ini dikenal dengan ABCGM (Akademisi-Business-Communitas-Goverment-Media), yang juga dikenal dengan “Jabar Masagi” yang berkembang di Jawa Barat.

Sejalan dengan itu, Kepala Disnas Koperasi dan Usaha Kecil Jawa Barat Dudi Sudradjat Abdurachim mengatakan, sesuai program pemerintah yakni UMKM go online, para pelaku KUMKM harus melek IT dan memanfaatkannya demi menaikan levelnya menjadi usaha besar.

“Pelaku KUMKM harus menguasai dan menfaatkan IT secara maksimal,” katanya.

Dudi menyebutkan, Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Provinsi Jawa Barat saat ini berkomitmen penuh terhadap digitalisasi koperasi dan UMKM. Sebagai contoh, ia menyebut, pihaknya telah mendorong penerapan Enterprises Resources Planning (ERP) berbasis IT di Koperasi Peternakan Bandung Selatan di Pangalengan.”Penerapan ERP ini ternyata sangat membantu para anggota untuk menjalankan aktivitasnya,” katanya.

Tak sampai di situ, Dinas KUK Jabar juga mendorong koperasi-koperasi di Jawa Barat untuk menerapkan Rapat Anggota Tahunan online, yang aplikasinya dapat digunakan secara gratis.

“Penerapan RAT Online sangat efektif terutama untuk efisiensi dan efektivitas pelaksanaan RAT,” katanya.

Masih dari sisi promosi dan sosialisasi, pihaknya pun saat ini tengah menggelar “Cooperative Fair ke-15 tahun 2018”. Kegiatan ini digelar mulai 10-12 Agustus 2017 di Parkir Barat Gedung Sate Bandung.

“Selain UKM Expo acara akan dimeriahkan fashion show, games, kuliner, workshop dan band musik Java Jive,” kata Dudi.“Cooperative Fair”, kata Dudi merupakan pameran produk Koperasi dan UMKM yang diikuti pelaku KUMKM dari 27 kabupaten/ kota se-Jawa Barat dan 33 provinsi se-Indonesia.

Pada kegiatan ini, ditampilkan berbagai produk makanan dan minuman, kerajinan, fashion dan aksesoris, sepatu dan tas, serta berbagai produk lainnya dari 300 pelaku koperasi dan UMKM Jawa Barat. (dri)