Harga Menghijau Meski Dolar AS Menguat

Harga Menghijau Meski Dolar AS Menguat

16
0
ISTIMEWA
BERBAGI

EMAS bergerak stabil pada perdagangan di Asia setelah sebelumnya ditutup menghijau dalam dua sesi berturut. Meskipun kembali naik, sentimen dari penguatan dolar AS masih memberikan tekanan bagi emas.

Pada perdagangan Kamis (9/8),  harga emas spot kembali menghijau 1,55 poin atau 0,13% menjadi US$ 1.215,43 per troy ounce dari penutupan pada sesi sebelumnya. Selama tahun 2018 berjalan, harga emas spot turun 6,71%.

Adapun, harga emas Comex kembali menguat 0,90 poin atau 0,07% menjadi US$1.221,90 per troy ounce. Secara year-to-date (ytd) harga emas Comex mengalami penurunan hingga 7,18%.

Dolar AS pada Kamis (9/8) juga bergerak stabil dengan indeks dolar AS naik tipis 0,09 poin menjadi 95,18. Dolar AS kembali menguat di hadapan yen setelah pada awal sesi sempat melemah ke titik terndah selama dua pekan setelah ada pembicaraan antara AS dan Jepang mengenai spekulasi bahwa Bank of Japan akan menarik diri dari kebijakan moneter termudah.

Greenback tercatat menguat 0,15 poin atau 0,14% di hadapan yen, membawa yen di posisi 111,13 yen per dolar AS.

“Tidak ada peristiwa penting yang bisa mendorong harga emas secara signifikan, emas akan diperdagangkan dalam kisaran yang sangat ketat,” ujar Richard Xu, Pengelola Keuangan HuaAn Gold, bursa dana (exchange-traded funds/ETF) terbesar di China, dikutip dari Reuters, Kamis (9/8/2018).

Xu menilai bahwa banyak orang masih berspekulasi di sekitar kenaikan suku bunga AS yang diperkirakan akan segera kembali naik, maka emas tidak akan menjadi komoditas yang cocok untuk diinvestasikan saat ini. Jika ada ekspektasi kenaikan suku bunga atau inflasi lebih cepat, harga emas akan semakin tertekan.

Federal Reserve AS telah meningkatkan suku bunga acuannya dua kali selama tahun ini, dan menargetkan akan menaikkan dua kali lagi dalam jangka pendek, salah satunya akan muncul pada September mendatang.

Suku bunga AS yang semakin tinggi pada umumnya akan mendorong penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil AS, menambah tekanan pada emas berdenominasi dolar AS yang tak berbunga.

“Perekonomian AS juga cukup kuat untuk menjamin kenaikan suku bunga lebih lanjut oleh bank sentral AS,” ujar Thomas Barkin, Presiden Richmond Fed.

Ahmad Yudiawan, analis PT Monex Investindo Futures, dalam laporan hariannya menyebutkan bahwa harga emas stabil, tetapi ekspektasi dolar AS yang menguat karena meningkatnya suku bunga AS dan permintaan yang kuat untuk obligasi treasury AS dilihat sebagai tempat perlindungan dari ketegangan perdagangan diperkirakan akan membebani harga emas.

“Harga emas berpeluang menguji level resistan di $1.214, penembusan level support ini akan membawa harga emas menguji level resistan selanjutnya pada level $1217 dan $1220,” ujar Ahmad. (kbe)