RS Paru Ditargetkan Rampung 2019

RS Paru Ditargetkan Rampung 2019

25
0
PEMBANGUNAN DIMULAI: Bupati Karawang Cellica Nurrchadiana saat melihat site plane RS Paru di sela-sela acara penanaman awal pancang bangunan yang menandai dimulainya pembangunan.
BERBAGI

KARAWANG – Pemerintah Kabupaten Karawang mulai membangun rumah sakit paru senilai Rp 152 miliar dari Dana Bagi Hasil Cukai Tembakau (DBHCT) berkonsep green arsitektur. Pembangunan ditargetkan rampung pada pertengahan tahun 2019 mendatang.

Rumah sakit yang berdiri di atas lahan 2,2 hektar itu digadang-gadang sebagai rumah sakit paru pertama di wilayah Pantura Jawa Barat.

“Insya Allah menjadi rumah sakit (paru) termegah di Jawa Barat,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Yuska Yasin, di sela ground breaking RS Paru di Jatisari, Karawang, Kamis (9/8/).

Yuska menyebut, dari lahan 2,2 hektar di Jalan Raya Jatisari, Karawang, hanya 20 persen yang akan dibangun bangunan tapak. Sisanya dibangun fasilitas pendukung berkonsep green arsitektur, seperti taman terapi.

“Di rumah sakit ini nantinya akan ada 106 bed,” tambahnya.

Slot lahan untuk pengembangan lahan juga sudah dialokasikan. Sehingga, ketika akan ada pengembangan gedung rumah sakit, lahan sudah tersedia dan terkonsep.

Dalam kompleks rumah sakit paru tersebut, juga akan dibangun rumah singgah. Hal ini untuk membantu keluarga pasien yang jarak rumahnya jauh dari rumah sakit.

Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana berharap, rumah sakit tersebut dibangun menggunakan DBHCT sejak tahun 2012 sebesar Rp 152.615.742.000. Pihaknya menargetkan pembangunan rumah sakit tersebut rampung pada pertengahan 2019.

“Pembangunan rumah sakit paru ini masuk dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Pemkab Karawang dan visi misi bupati dan wakil bupati Karawang,” ujar Cellica.


Cellica berharap, rumah sakit paru tersebut menjadi rumah sakit rujukan di Karawang, Purwakarta, Subang, dan Bekasi.

“Kami ingin mengedepankan pelayanan kepada masyarakat, baik itu masyarakat Karawang maupun di luar Karawang,” ungkapnya.

Terlebih, kata dia, penyakit TBC menjadi salah satu penyakit yang menjadi penekanan Kementerian Kesehatan. Bahkan, hingga saat ini angka penderita TBC masih tinggi. Disusul infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang masih kerap diderita masyarakat.

“Oleh karena itu, niat kita menyediakan layanan kesehatan yang terbaik bagi masyarakat,” tandasnya. (mhs)