Dibujuk Sekretaris Kemenpora Kembali ke Tempat Asa

Dibujuk Sekretaris Kemenpora Kembali ke Tempat Asa

23
0
BALIK LAGIL: Para atlet paralimpik yang melakukan aksi jalan kaki Bandung-Jakarta saat tiba di Purwakarta.
BERBAGI

Aksi Jalan Kaki Atlet Paralimpik Berakhir di Purwakarta

PURWAKARTA– Enam orang atlet paralimpik melakukan aksi jalan kaki Bandung-Jakarta untuk menuntut hak-haknya. Sekretaris Kemenpora kemudian membujuk para atlet itu untuk kembali ke tempat asalnya.

Para atlet paralimpik ini memutuskan untuk kembali ke Bandung, Selasa kemarin. Setelah sebelumnya dibujuk oleh Sekretaris Kemenpora Gatot Dewa Broto. Tepatnya di ‎Hotel Grand Situ Buleud, Kabupaten Purwakarta.

Pertemuan pun dikabarkan berlangsung alot. Bahkan berlangsung sejak Senin 6 Agustus 2018 malam hingga 7 Agustus 2018 dini hari. Namun akhirnya para atlet Peparnas XV di Jabar 2016 ini mengalah. Hal ini karena tuntutan mereka sudah terakomodir dengan baik.

Pada pertemuan ini pun telah dibuat surat kesepakatan yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Tentunya kedua belah pihak ini dari kalangan para atlet, dan Sekretaris Kemenpora Gatot Dewa Broto.

Data yang diberikan Kemenpora setidaknya ada 15 poin kesepakatan. Kesepakatan tersebut di antaranya, para atlet akan diperjuangkan untuk mengikuti Asean Paragames 2018. ‎Bahkan kesepakatan ini pun akan melibatkan Asian Paralympic Committee (APC).

Kemenpora pun berjanji akan ‎mengirimkan tim auditor untuk lakukan verifikasi dugaan pungutan liar. Pungutan liar ini diduga kuat dilakukan oleh National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI).

Perbuatan tersebut diduga melanggar  Undang-undang No 8 Tahun 2016 tentang penyandang Disabilitas . Selain itu juga melanggar Peraturan Presiden No 95 Tahun 2017. Hal ini terkait peningkatan prestasi olah raga Nasional, pungli, dan prestasi atlet.

“Saya merespons positif dicapainya kesepakatan. Sehingga kami harapkan apa yang tertuang dalam pernyataan itu bisa segera direalisasikan,” kata perwakilan atlet Paralimpik Farid Surdin. Diketahui Farid adalah atlet tolak peluru asal Kota Cirebon,

Sebelumnya ‎para atlet ini memulai aksi jalan kaki Bandung-Jakarta pada Sabtu 4 Agustus 2018 lalu. Mereka memulai long march dari Stadion GBLA, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung.

Mereka mulanya akan menuju Stadion GBK Jakarta, dilanjutkan ke Istana Kepresidenan. Bertujuan untuk menemui Presiden Joko Widodo untuk mengembalikan medali emas dan hadiah uang yang mereka terima.

Hal ini menurut Farid dilakukan sebagai bentuk protes kepada NPCI. Hal ini karena NPCI dianggap telah menghambat prestasi mereka.‎ Bahkan selama ini mereka para atlet tidak diikutkan dalam event Nasional maupun Internasional. Seperti Paralympic 2017 dan Asian Paralympic 2018 mendatang di Jakarta dan Palembang.

“Alasan penolakan ini karena kami menolak menyetorkan jumlah 25 persen uang dari bonus yang kami terima. Bonus yang kami terima ini adalah akumulasi bonus saat kami merebut medali emas pada Peparnas XV,” ujar Farid.

Sementara terkait penghambatan karier mereka, lanjut Farid, para atlet sudah menggugat NPCI dan NPC Jabar. NPC dan NPCI Jabar sudah dilaporkan  ke Pengadilan kelas I Bandung. Bahkan hingga saat ini, perkara tersebut sudah disidangkan tujuh kali.

Di tempat yang sama, perwakilan Kemenpora menyatakan ‎siap berkomitmen. Komitmen tersebut di antaranya adalah membantu kelancaran proses penanganan perkara yang melibatkan para atlet ini.

Kuasa hukum para atlet, Kamaludin mengatakan, surat pernyataan kesepakatan tersebut akan dijadikan alat bukti. “Kemenpora dan kami sepaham NPCI dapat di duga telah melakukan tindak pidana. Tindak pidana ini seperti dimaksud pasal 142-144 UU No. 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas,” kata Kamaludin.

Sementara itu, Gatot Dewa Broto mengaku sangat prihatin dengan kondisi para atlet. Ia sampai tak kuasa menahan tangis saat bertemu para atlet di Purwakarta semalam. “Kami pun memberikan fasilitas beruba bus dengan branding Asian Games. Hal ini tentunya dilakukan untuk‎ mengangkut para atlet kembali ke Bandung,” katanya.  (san)