Sias-siap Cilamaya Dilanda Suhu Panas

Sias-siap Cilamaya Dilanda Suhu Panas

131
0
BERBAGI

CILAMAYA WETAN – Keberadaan proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) di Desa Cilamaya, Kecamatan Cilamaya Wetan, Karawang saat ini tengah menjadi sorotan. Setelah Pemkab Karawang melalui Disnakertrans kemarin, melayangkan ultimatum kepada Jawa Satu Power (JSP) selaku empunya proyek, yang dituding tak patuh aturan ketenagakerjaan di Karawang.

Saat ini, dampak positif dan negatif tentang keberadaan proyek tersebut di Cilamaya, tengah jadi pergunjingan hangat di kalangan pemerintah desa, kecamatan hingga tokoh masyarakat.

Dalam acara konsultasi publik Hasil Studi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) pembangunan PLGTU Jawa 1 berkapasitas 1.760 mega watt, yang diselenggarakan Senin (30/7), kemarin di Aula Kantor Desa Cilamaya.

konsultan publik PLTGU Jawa 1 Ariyanto menerangkan, salah satu dampak dari pembangunan PLTGU di Cilamaya yaitu meningkatnya suhu panas di sekitar area menara sutet yang di bangun di atas lahan seluas 2 hektare milik PT. Pertamina.

Dikatakannya, emisi gas yang dikeluarkan dari hasil pembakaran bahan baku akan membuat efek rumah kaca. Dimana, suhu panas yang keluar, akan kembali di pantulkan masuk ke dalam bumi dan membuat area disekitar PLTGU Jawa 1 suhu udaranya semakin panas.

“Dampak terburuknya adalah suhu panas ini bukan hanya dirasakan masyarakat Cilamaya, bahkan sampai keluar Karawang,” ungkap Ariyanto dalam acara tersebut.

Tak cukup sampai di situ, selain suhu panas yang kelewat batas, kumparan debu yang bersumber dari alat-alat berat serta mobilisasi kendaraan besar di sekitar proyek pembangunan akan menambah keruh suasana Desa Cilamaya.

Terlebih lagi, lanjut Ariyanto, saat ini tengah memasuki musim kemarau yang cukup panjang. Suhu udara yang sangat panas serta kumparam debu yang berterbangan akan menghiasi wajah Cilamaya selama tiga tahun lamanya.

“Salah satu yang harus dilakukan untuk meminimalisir dampaknya yaitu dengan melakukan penanaman pohon di sekitar bangunan proyek,” sarannya.

Masih kata dia, seperti sudah diketahui, sebelum kedatangan mega proyek dengan nilai investasi lebih dari Rp. 24 triliun ini, Sungai Cilamaya sudah tercemar limbah hebat yang membuat kondisinya kini sangat memperihatinkan.

Ariyanto berharap, PT. Jawa Satu Power dan kontraktor melaksanakan pekerjaannya sebaik mungkin. Dengan memperhatikan pengelolaan limbah dan penggunaan bahan-bahan berbahaya harus sesuai dengan rekomendasi dari PLN.

Sesuai perjanjian Amdal, kata Ariyanto, JSP bertanggung jawab penuh atas dampak emisi efek rumah kaca dan problematika yang terjadi dari dampak pembangunan PLTGU yang akan mengaliri listrik untuk pulau Jawa dan Bali ini.

“JSP bertanggung jawab penuh atas dampak negatif yang terjadi,” pungkasnya.

Di tempat yang sama, pimpinan JSP, Sumadi menjelaskan, proyek PLTGU Jawa 1 di Cilamaya akan dikerjakan oleh tiga kontraktor besar yang berpengalaman. Di antaranya PT General Electrik (GE), PT Samsung C&T dan PT Meindo Elang Indah.

Dalam pemaparannya, Sumadi menjelaskan, panjang proyek PLTGU Jawa 1 dari Karawang hingga Cibitung, Bekasi mencapai 53 kilometer. Sepanjang jalur tersebut terdapat 118 titik menara sutet dengan jarak antar sutet 480 meter.

“Di Karawang terdapat 94 titik, dengan kapasitas mencapai 1.760 mega watt,” jelasnya.

Lanjutnya, anggaran sebesar $ 1,5 miliar dolar atau sekitar Rp. 24 Triliun bersumber dari patungan sponsor utama. Yakini PT. Pertamina (Persero) memiliki saham 40%, PT Marubeni Corporation 40% dan perusahaan Jepang Sajitz Corporation sebanyak 40% saham.


“Ini merupakan proyek terbesar milik Indonesia di abad ini,” tuturnya.

Bahkan, pimpinan PT General Electrik, Vasco Tangkulunng mengklaim, proyek PLTGU Jawa 1 ini adalah yang terbesar dan tercanggih yang ada di dunia. Selain di buat dengan teknologi yang serba modern, proyek ini ditujang dengan alat-alat yang canggih dengan sistem komputer terbaik.

Vasco menambahkan, ada dua alasan utama kenapa PLTGU Jawa 1 di bangun di Cilamaya, Karawang. Alasan pertama, kata Vasco, kebutuhan listirk di pulau Jawa khususnya Jawa Barat paling besar di Indonesia. Alasan lain, Cilamaya memiliki sumber daya yang sangat memadai untuk mewujudkan proyek tersebut.

“Proyek ini akan di mulai September 2018, dengan masa kontrak kerja operasional selama 25 tahun,” ujarnya. (wyd/mhs)