Rombongan Kapolres Tutup Hidung

Rombongan Kapolres Tutup Hidung

68
0
BERBAGI

Barugbug Terus Tercemar, DLHK Ongkang-ongkang Kaki

 KARAWANG – Air bendungan berwarna hitam pekat dan mengeluarkan bau busuk di Bendungang Barugbug dan aliran Sungai Cilamaya menyambut rombongan Kapolres Karawang AKBP Slamet Wkyoya bersama rombongan.

Kapolres dan rombongan bahkan harus berkali-kali menutup hidung karena tak kuat menahan bau. Layatan rombongan Kapolres ke Bendungan menanggapi keluhan masyarakat dengan dugaan pencemaran limbah di Bendungan Barugbug dan aliran Sungai Cilamaya.

“Kami memperoleh informasi dugaan pencemaran Bendung Barugbug dan Sungai Cilamaya ini dari media sosial. Pencemaran ini banyak dikeluhkan masyarakat,” ungkapnya, kemarin.

Atas informasi itu, dirinya bersama jajaranya sengaja datang untuk mengecek dan melihat kondisi pencemaran, kendati dilakukan secara informal. Namun demikian, sejumlah anggotanya telah mengambil sampel air untuk diperiksa di laboratorium.

Disebutkan, karena aliran Sungai Cilamaya melintasi daerah lain seperti Kabupaten Subang dan Purwakarta, pihaknya akan berkoordinasi dengan para Kapolres di daerah itu untuk menelusuri asal pencemaran. Dia juga akan melaporkan kejadian tersebut ke Kepolisian Daerah Jawa Barat.

“Saat ini masih kami selidiki, kemungkinan aliran berasal dari industri wilayah Purwakarta dan Subang. Sampai sekarang ini kita sedang berkoordinasi dengan Polres Purwakarta dan Polres Subang terkait hal tersebut. Ini bentuk responsif dalam menanggapi keluh kesah dari masyarakat terkait permasalahan di Kabupaten Karawang,” katanya.


Berdasarkan informasi dilapangan, penecamaran air Bendungan Barugbug dan Sungai Cilamaya sudah berlangsung belasan tahun. Pencemaran tersebut baru ketara saat muaim kemarau tiba karena air Bendungan berubah menjadi hitam pekat dan menebat bau tak sedap.

Diduga pencemaran berlangsung setiap waktu. Hanya saja saat musim penghujan iar limbah yang mencemari Barugbug dan Sungai Cilamaya tidak terlihat secara kasat mata karena volume air sedang tinggi.

Selama belasan tahun iti juga masyarakat yang tinggal di sekitar Bendungan Barugbug
dan sepanjang bantaran Sungai Cilamaya menderita. Mereka harus
menghirup aroma tidak sedap,  ketika musim kemarau tiba. Sedangkan, saat volume air sedang tinggi warga hanya merasakan gatal-gatal jika menyentuh air sungai atau air bendungan.

Kerugian warga tidak hanya sebatas itu. Sebab, air bedungan yang tercemar limbah itu telah merusak areal sawah milik mereka. Sawah yang terairi air bendungan tanaman padinya menjadi kerdil dan tanahnya menjadi asam. (rie)