Revolusi Karpet Masjid Agung

Revolusi Karpet Masjid Agung

88
0
MEGAH: Kemegahan Masjid Agung Baing Yusup Purwakarta tampak dari luar dan bagian dalam. CATUR AZI/KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

Dalam Sepuluh Tahun Berkali-kali Direnovasi

PURWAKARTA– Masjid Agung Purwakarta mulai bermetamorfosa saat Dedi Mulyadi memimpin Purwakarta pada Tahun 2008. Namanya mengalami perubahan menjadi Masjid Agung Baing Yusuf usai menjalani renovasi di sana-sini.

Baing Yusuf sendiri merupakan nama seorang tokoh pendakwah Agama Islam di Purwakarta. Pemilik nama asli Raden Haji Muhammad Yusuf bin Raden Jayanegara itu memiliki seorang murid bernama Syaikh Nawawi Al Bantani.
Sebagaimana diketahui, nama terakhir itu bergelar Sayyidu Ulamail Hijaaz atau Tuan Para Ulama di Tanah Hijaz. Berbagai catatan sejarah menyebutkan, ulama asal Tanara, Banten itu berguru saat remaja kepada Baing Yusuf Purwakarta.

Berkah ilmu dari Baing Yusuf, merefleksi Dedi Mulyadi untuk mengganti nama masjid itu dengan nama beliau.

Awalnya, masjid yang terletak di Jalan Gandanegara itu belum memiliki karakter khas. Setelah berkonsultasi dengan para tokoh masyarakat dan tokoh Agama Islam, Dedi Mulyadi mulai memasukan unsur kultural ke dalam desain arsitekturnya.

Kepala Sub Bagian Agama pada Bagian Kesra Pemkab Purwakarta, Dindin Ibrahim menceritakan hal tersebut.

“Pemerintah Kabupaten Purwakarta saat itu mulainya dari bagian depan. Masjid Agung Purwakarta dihiasi pagar malati dan taman-taman. Arsiteknya langsung Kang Dedi Mulyadi,” kata Dindin di ruang kerjanya, Jalan Gandanegara No 25, Kamis (24/5).

Setelah itu, 10 meter dari gerbang utama, dibangun sebuah gerbang masuk berarsitektur ‘julang ngapak’. Artinya, burung yang sedang merentangkan sayap. Arsitektur tersebut merupakan bentuk bangunan khas Sunda, biasanya diterapkan pada bangunan berjenis rumah panggung.

“Jadi, saat jamaah masuk lewat gerbang depan, itu disambut ‘julang ngapak’,” ujar Dindin.

Nuansa kultural ternyata tidak hanya menghiasi bagian luar Masjid Baing Yusuf Purwakarta. Di bagian dalam, terutama karpet yang biasa digunakan jamaah untuk saalat, juga berdesain ‘julang ngapak’.

Biasanya, karpet masjid bergambar Masjidil Haram atau Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. Pemandangan itu tidak akan ditemukan di Masjid Baing Yusuf. Pasalnya, gerbang utama Masjid Baing Yusuf lah yang tergambar jelas pada tiap bagian karpet.

“Uniknya di situ. Karpetnya Sunda banget,” lanjut Sekretaris PCNU Purwakarta tersebut.

Pemeliharaan Masjid Agung Baing Yusuf pun menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten Purwakarta. Setiap hari, sebanyak 2 orang petugas kebersihan merawat dan membersihkan taman dengan gaji Rp 2 Juta setiap bulan.

“Petugas kebersihannya digaji pemda. Kemudian, kalau ada acara kita selalu support, snack dan sekadar uang lelah untuk petugas acara. Itu menjadi salah satu kegiatan rutin kesra,” ucapnya.

Tepat di belakang masjid tersebut, terdapat sebuah kompleks pemakaman untuk para ‘menak’ (tokoh) Purwakarta. Jasad Baing Yusuf termasuk yang dimakamkan di area kompleks tersebut.

Atas jasa-jasanya menyebarkan Agama Islam di Purwakarta, Pemerintah Kabupaten Purwakarta pun melakukan penataan terhadap makamnya.

Sebagaimana khasnya bangunan di Jawa Barat, arsitektur ‘julang ngapak’ kini menaungi makam Maha Guru tersebut.

Setiap bulannya, ribuan orang dari berbagai penjuru Pulau Jawa berziarah ke makam Baing Yusuf, terutama setiap malam Jum’at.

Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purwakarta melihatnya sebagai momentum promosi wisata religi. Karena itu, bidang pariwisata pada dinas tersebut kini tengah bersiap menata sebuah diorama yang menceritakan kisah Baing Yusuf.

“Setiap tahun kami hitung, wisatawan religi ke makam Baing Yusuf terus mengalami peningkatan. Kami yakin akan semakin meningkat. Sesuai rencana, akan ada sebuah diorama digital tentang Baing Yusuf di sana,” ujar Kabid Pariwisata, Heri Anwar. (ctr)