Kecurangan Mencuat

Kecurangan Mencuat

116
0
BERBAGI

Hasil Tender RS Paru Penuh Kejanggalan

HT-HP Jomplang hingga Dugaan Pelampiran Dokumen Palsu

KARAWANG – Dugaan pengondisian serta kecurangan dalam pemenangan tender RS Paru terus mencuat ke publik. Bahkan harga penawaran awal PT Amarta Karya (pemenang lelang, red) dengan harga yang terkoreksi oleh panitia dalam proses lelang pun dinilai terlalu jomplang dan terindikasi teralu dipaksakan untuk memuluskan jalan PT Amarta menangkan tender.

Diketahui harga penawaran awal yang diajkan oleh PT Amarta Karya adalah Rp.149.590.500.000.00 sedangkan harga yang terkoreksi dimunculkan Rp.152.615.742.000.00.

Sebelumnya juga mencuat, saat pengajuan awal PT Amarta Karya tak menyertakan dokumen Join Operation (JO) sedangakn saat dinyatakan menant tiba-tiba munyatakan join operation (penggabungan  sementara mengerjakan proyek) RS Paru dengan (penggabungan sementara menyelesaikan proyek) dengan PT Tri Kencana.

Ahmad Mukron, Ketua Umum LSM Kompak

“Ini harus ditinjau ulang. Pemenang harus ditangguhkan. Pertama ada yang aneh darimulai harga penawaran awal dari PT Amarta dengan yang terkoreksi. Malah diutak-atik sedemikian rupa. Ini ada apa? Harusnya sama dong nilai penawaran dan yang terkoreksi,” kata Ketua Umum LSM Kompak, Ahmad Mukron, Senin (21/5).

Selain itu, ia juga turut menyatakan dokumen yang disertakan oleh PT Amarta Karya yang pernah membangu RSIA Bunda Aliyah merupakan dokumen bohong yang memperkuat hasil tender ini cacat di mata hukum.

“Ada pemalsuan dokumen juga. Pembanguna RSIA Bunda Aliyah Depok bukan PT Amarta yang bangun tapi dimasukanke dokumen lelang. Ini fatal,” katanya.

Dikatakan Mukran, jika Pemkab Karawang diam dengan sejumlah bukti awal dugaan kecurangan tender megaproyek ini, patut dipertanyakan. Ia pun akan mengambil langkah hukum jika kondisi tersebut terjadi.

“Langkah hukum kami ambil dalam kapasitas sebagai lembaga kontrol,” katanya.

Sebelumnya Aroma dugaan kongkalikong panita tender RS Paru dengan pemenang tender PT Amarta Karya mulai mencuat. Kejanggalan bermula PT Amarta Karya yang pada pengajuan awal lelang tak menyertakan dokumen Join Operation (JO), namun setelah dinyatakan menang, diumumkan JO (penggabungan sementara menyelesaikan proyek) dengan PT Tri Kencana.

Ketua Umum Barisan Rakyat (Barak) Indonesia, D. Sutedjo menilai dengan adanya temuan kejanggalan ini seharusnya kemenangan tender PT Amarta Karya cacar di mata hokum karena sedari awal pengajuan ikut lelang tak menyertakan dokumen yang lemngkap (JO,red).

Tedjo juga mencurigai laporan PT Amarta Jarya di LPJk.net yang menuliskan pernah membangun RSIA Bunda Aliyah Depok dengan pagu anggaran Rp 110 M fiktif. Karena jika pada tender RS Duren Sawit pun PT Amarta Karya tak lolos prakualifikasi tender karena tak memiliki kompetensi dasar pembangunan rumah sakit, dan ketahuan memakai dokumen KD milik PT. Trikencna.

”Artinya, PT. Amarta Karya telah membuat laporan palsu dengan tujuan agar dapat digunakan pada tender Rumah Sakit Paru Karawang,” timpal Tedjo. (mhs)