Penertiban Lokalisasi Awal Bulan Ramadan

Penertiban Lokalisasi Awal Bulan Ramadan

83
0
PENERTIBAN: Petugas gabungan saat meratakan warung remang-remang di pesisir. REGI/KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

Siasat Tunasusila Kelabui Petugas

Rabu (16/5) siang warung remang-remang di sejumlah titik di pesisir yang jauh dari pusat kota diratakan oleh petugas Satpol PP kecamatan. Belasan jam sebelumnya, tenda warung-warung semi-permanen di lokalisasi legenda Se’er oleh para pemiliknya dibuka untuk menyiasati anggapan pemerintah jika tempat prostitusi tersebut telah stereil satu hari menjelang bulan suci Ramadan. 

Mahesa Bahagiastra, Karawang

“Kalau  menjelang menjelang Ramadan gini. Tiga hari pertama biasanya tutup. Kemudian buka biasa tapi tendanya dibuka supaya dianggap stereil,” kata salah seorang  wanita tunasusila yang mengaku langganan mangkal di sana.

Aksi kucing-kucingan seperti itu dikatakannya lumrah terjadi saat memasuki bulan Ramadan. Namun ia memastikan bohong jika aktivitas di sana full terhenti selama bulan Ramadan.

“Tapi memang tidak akan seramai bulan-bulan biasa. Jam dua pagi suadah pada pulang. Nyiapin sahur untuk keluarga di rumah,” katanya. “Lucunya jika bulan Ramadan, pasti kalau masuk buru-buru karena takut ada razia,” imbuhnya.

Sebelumnya, sikap dari masyarakat yang meminta tempat-tempat hiburan malam ditutup selama bulan Ramadan sudah mengalir. Bahkan di hadapan bupati saat pawai obor beberapa waktu lalu, masyarakat meminta bupati mengeluarkan surat edaran resmi.

Di lain tempat, tepatnya di sepanjang jalan Kecamatan Rengasdengklok hingga Kecamatan Batujaya, warung remang-remang yang dikenal kerap dijadikan tempat prostitusi diratakan oleh petugas gabungan. Penertiban ini dilakukan, setelah sepuluh hari sebelumnya pemerintahan kecamatan setempat mengeluarkan surat edaran agar para pemilik warung segera membongkar warung miliknya sendiri tak juga digubris oleh pemilik warung.

“Surat pemberitahuan yang kita layangkan tanggal 30 April lalu, dengan asumsi memberi tenggang waktu selama 10 kepada pemilik bangunan untuk membongkar warungnya sendiri,” jelas Kasie Trantib Kecamatan Rengasdengklok Asep Madya.

Warung remangremang di sana diketahui bak jamur. Tak henti-henti bongkar-pasang. Untuk kesekian kalinya, pemerintah kecamatan setempat mengatakan tak akan lagi membiarkan warung-warung tersebut berdiri lagi.

Lain hal lagi dengan di pesisir Cilamaya. Perempuan-perempuan tunasusila yang kerap mangkal di lokalisasi Kedoya Desa Tegalsari, Waris Desa Rawagempol Kulon dan Gundul Jaya Desa Rawagempol Wetan yang kebanyakan berasal dari Subang, Subang dan Indramayu dipaksa harus angkat koper oleh pemerintahan kecamatan setempat.

Seperti halnya di Rengasdengklok dan Batujaya. Lagi-lagi pemerintahan kecamatan setempat mengetakan akan mempatenkan perlarangan prostitusi. Meski berkaca dari yang leawat, setelah ramdan, bahkan pertengahan Ramadan lokalisasi beroperasi seperti biasa saat malam tiba.

“Kami akan terus pantau, pokoknya selama ramdhan dilarang beroperasi. Bahkan, rencananya akan kami permanenkan,” ungkap Sekcam Cilamaya Wetan, Imam Bahanam kepada KBE.

Tak hanya lokalisasi-lokalisai kelas teri. Sejumlah tempat karaoke dan pantipijit pun menjelang Ramadan meliburkan para pegawainya. Meski beberap di antaranya, hanya meliburkan dua hingga tujuh hari pertama Ramadan. (*)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY