DMS Sikapi Tantangan Revolusi Industri 4.0

DMS Sikapi Tantangan Revolusi Industri 4.0

PEDULI INDUSTRI. H Daniel Mutaqien Syafiuddin, ST (tengah) selaku Depenas SOKSI mengikuti diskusi Nasional yang mengangkat tema “Revolusi Industri 4.0: Tantangan Para Pekerja” yang digelar Senin (07/05) di Aula DPP Golkar Slipi, Jakarta Barat. //FOTO:IST//

177
0
BERBAGI

Diperlukan Kesiapan SDM Handal dan Profesional

JAKARTA-H Daniel Mutaqien Syafiuddin, ST selaku pengurus Dewan Pimpinan Nasional Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (Depenas SOKSI) mengikuti Diskusi Nasional yang mengangkat tema “Revolusi Industri 4.0: Tantangan Para Pekerja” yang digelar Senin (07/05) di Aula DPP Golkar Slipi, Jakarta Barat.

Sejumlah tokoh menjadi pembicara dalam diskusi ini, diantaranya Ketua DPR RI Bambang Soesatyo, Kepala BNP2TKI Nusron Wahid, Menteri Tenaga Kerja 1999-2000 sekaligus Kader SOKSI Bomer Pasaribu, Dirjen Binapenta Kemenaker RI Maruli Arul Hasoloan, dan Peneliti Senior FISIPOl UGM Eric Hiariej. Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono juga hadir dalam diskusi ini.

H. Daniel Mutaqien Syafiuddin, ST yang biasa dipanggil DMS ditemui saat break makan siang dalam diskusi tersebut menjelaskan, diskusi tersebut sangat penting karena membahas masalah kekinian tentang tantangan pekerja dalam menghadapi revolusi industri 4.0.

“Tidak perlu takut menghadapi tantangan revolusi industri 4.0 karena hal itu adalah sebuah keniscayaan, kuncinya adalah bagaimana kita mempersiapkan dan meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (SDM) bangsa Indonesia khususnya para pekerja,” tegas DMS.

Dijelaskan lebih jauh oleh DMS, Faktor yang melatarbelakangi terjadinya Revolusi Industri adalah terjadinya revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke 16 dengan munculnya para ilmuwan seperti Francis Bacon, René Descartes, Galileo Galilei serta adanya pengembangan riset dan penelitian dengan pendirian lembaga riset seperti The Royal Improving Knowledge, The Royal Society of England, dan The French Academy of Science.

Ditambahkan DMS,  berdasarkan literatur yang dia baca, bahwa Revolusi bisa diartikan sebagai perubahan secara cepat atau perubahan yang cukup mendasar dalam suatu bidang atau di suatu tempat. Sementara Industri artinya proses membuat atau menghasilkan suatu barang.

Perubahan yang terjadi di Inggris pada abad ke-18 merupakan perubahan dalam memproduksi barang-barang dari penggunaan tenaga manusia kepada mesin-mesin. Jadi Revolusi Industri adalah perubahan cara membuat atau menghasilkan barang yang semula menggunakan tenaga manusia beralih ke tenaga mesin.

“Di era revolusi industri 4.0 ini maka kita harus kembali sejarah yakni kita harus mampu membuat revolusi ilmu pengetahuan atau dengan kata lain kita siapkan SDM yang handal dalam menghadapi perubahan tersebut,” ungkap DMS panjang lebar.

Menurut DMS, Menteri Perindustrian yang juga Ketua Umum DPP Golkar, Airlangga Hartarto telah menyiapkan empat langkah strategis agar Indonesia mengimplementasikan Industry 4.0.

Pertama, mendorong agar angkatan kerja di Indonesia terus belajar dan meningkatkan keterampilannya untuk memahami penggunaan teknologi internet of things atau mengintegrasikan kemampuan internet dengan lini produksi di industri.

Langkah kedua, yakni pemanfaatan teknologi digital untuk memacu produktivitas dan daya saing bagi industri kecil dan menengah (IKM) sehingga mampu menembus pasar ekspor melalui program e-smart IKM.

Ketiga, lanjut Airlangga, pihaknya meminta kepada industri nasional dapat menggunakan teknologi digital seperti Big Data, Autonomous Robots, Cybersecurity, Cloud, dan Augmented Reality. langkah Keempat, yang diperlukan adalah inovasi teknologi melalui pengembangan startup dengan memfasilitasi tempat inkubasi bisnis.

“Ketua Umum kami selaku Menteri Perindustrian telah menyiapkan langkah-langkah strategis tersebut, hal itu dimaksudkan agar bangsa Indonesia mampu menghadapi revolusi industri 4.0 khususnya para pekerja sehingga tidak akan tertinggal dari bangsa lain,” jelas politisi muda asal Kota Mangga Indramayu ini.

Pada kesemparan Diskusi Nasional tersebut, Plt Ketua Umum SOSKI, Bobby Suhardiman dalam sambutannya menjelaskan, diskusi nasional digelar masih dalam suasana peringatan Mayday atau hari Buruh Dunia.

“Semangat yang dibangun dan selalu menjadi fokus Depenas Soksi mengenai kesejahtraan kalangan Buruh yang menjadi roda perkembangan industri akhir akhir ini. Sehingga relevansi kesejahteraan antara Buruh dan kemajuan perindustrian Indonesia tentunya,” jelasnya.

Sementara, Sekjen Partai Golkar Lodewijk Paulis mengatakan, Indonesia saat ini masih berada pada tataran revolusi industri level kedua dan ketiga. Dengan kata lain, masih berada pada old revolution (revolusi lama). “Indonesia masih bermain pada industri pada level kedua dan ketiga, kita masih pada tataran old revolution,” kata Lodewijk.

Revolusi industri pertama adalah ketika ditemukannya mesin uap, kemudian revolusi industri kedua ketika listrik mulai digunakan, dan revolusi industri 3.0 ketika dimulainya robotisasi.

Lodewijk menjelaskan, pada revolusi 4.0 semua sistem akan dikoneksikan dengan internet. Ia memberi contoh industri elektronik dan kimia yang akan menerapkan sistem digital.

“Semua sistem dikoneksikan kepada internet. Dengan begitu, kompleksitas dari industri pun meningkat. Sebagai contoh untuk diskusi elektronik dan kimia, akan menerapkan sistem digital,” pungkasnya. (rls/mak)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY