Refleksi Hardiknas: Kisah Honorer K2, Rohidin

Refleksi Hardiknas: Kisah Honorer K2, Rohidin

117
0
Rohidin, Tenaga Honorer
BERBAGI

 

 18 Tahun Mengabdi untuk Pendidikan, Hidup Jauh dari Sejahtera 

Sudah lebih dari 18 tahun Rohidin mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan. Namun, selama itu pula kehidupanya dinilai masih cukup jauh dari kata sejahtera. Ia bukan satu-satunya, masih ada ribuan honorer tenaga kependidikan lain yang bernasib sama.

Wahyudi, Cilamaya

MENGAWALI karir menjadi mengabdikan diri di dunia pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 2 Cilamaya Wetan pada tahun 1999 sebagai staf Tata Usaha (TU) di sekolah tersebut. Rohidin tidak pernah mengeluhkan upah yang ia dapat pada saat itu.

Menurut kisah yang ia ceritakan, tiga tahun pertama ia bekerja, Rohidin hanya menerima upah Rp 45 ribu dari sekolah. Menurut pengakuan Rohidin, pada waktu itu Rp. 45 ribu hanya cukup untuk hidup 2 minggu. Itu pun sudah diupayakan sehemat mungkin. Makan hanya dua kali sehari dengan lauk seadanya, sudah membuat perut Rohidin, istri dan satu anaknya merasa kenyang.

Di sekolah, Rohidin dikenal sebagai pribadi yang patuh dan santun. Ia selalu bekerja dengan tulus dan memberikan yang terbaik untuk pendidikan.

Hidup bertahun-tahun dengan selalu kekurangan membuat semangat Rohidin untuk menasbihkan diri menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) semakin membara.

Tujuannya tak lain adalah untuk mendapatkan upah yang layak untuk menghidupi sanak keluarganya di rumah.

Kisah perjuangan Rohidin dimulai pada awal tahun 2005. Saat itu, untuk pertama kalinya dengan semangat dan optimis yang tinghi Rohidin mengikuti tes CPNS.

“Dalam pikiran saya saat itu, saya harus berhasil dan lolos tes. Kasian anak saya sudah besar, biaya pendidikan waktu itu masih mahal,” ujarnya.

Meskipun sudah mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam tes, tapi nasib berkata lain. Rohidin gagal dalam tes pertamanya. Meskipun demikian, ia tidak menyerah untuk terus mencoba lagi.

Sampai tahun 2016,sedikitnya Rohidin sudah mengikuti 3 kali tes CPNS untuk honorer K2. Akan tetapi, semua tes yang ia ikuti gagal, dan Rohidin masih harus tetap berjuang hidup dengan gaji yang sangat minim.

“Tidak menghilangkan rezeki, upah saya terus naik tapi masih belum cukup. Saat ini hanya di angka Rp. 750 ribu, tapi itu sudah alhamdulillah,” ucap Rohidin bersyukur.

Imbas dari kegagalan Rohidin memperjuangkan haknya menjadi CPNS adalah pendidikan anak semata wayangnya harus terputus. Anak laki-laki Rohidin itu hanya bisa mengenyam pendidikan sampai SMP saja. Itu pun di sekolah tempat Rohidin bekerja.

“Sekarang dia cuma kerja serabutan untuk membantu saya menghidupi keluarga. Sebenarnya saya juga kasian, tapi ini nasib yang harus dijalani,” ujarnya.


“Saya tidak punya pemasukan lain, karena satu-satunya pekerjaan saya dan penghasilan saya dari sini,” imbuhnya.

Sebenarnya, bahasan mengenai revisi UU Aparatur Sipil Negara (ASN) Khusunya mengenai status pengangkatan honorer K2 sempat membuka harapan Rohidin untuk jadi CPNS. Namun hingga saat ini, pahlawan tanpa tanda jasa ini masih harus berkelit dengan mahalnya biaya hidup untuk keluarganya.

Delapan belas tahun sudah Rohidin mengabdikan diri untuk pendidikan. Moment hari buruh internasional dan hari pendidikan nasional menjadi corong utama untuk Rohidin mengeluarkan suara. Mewakili rekan sejawatnya sebagai honorer K2, Rohidin berharap memiliki kejelasan status sebagai CPNS agar bisa dengan segera menjadi PNS.

“Inginnya kejelasan status sebagai CPNS, kami honorer K2 juga butuh kesejahteraan,” pungkasnya. (*)