Bayi Kuning: Apakah Normal? Kapan Bisa Berbahaya? Apa yang Harus Dilakukan?

Bayi Kuning: Apakah Normal? Kapan Bisa Berbahaya? Apa yang Harus Dilakukan?

534
0
dr. Nevin Chandra Junarsa SpA. Mkes, Dokter Spesialis Anak
BERBAGI

TIDAK sedikit buah hati kita di usia 1 minggu pertama setelah kelahirannya mengalami kuning. Keadaan ini disebut ikterus neonatorum.

Tentunya hal ini membuat cemas orangtua maupun keluarga yang sangat mengharapkan kesehatan sang buah hati, timbul pertanyaan apabila sang buah hati mengalami kuning, apakah normal atau justru merupakan suatu yang tidak normal, berbahayakah, kapan hilangnya, dan segudang pertanyaan lainnya.

 Apa itu ikterus neonatorum?

Bayi kuning atau disebut ikterus neonatorum adalah suatu keadaan klinis bayi yang ditandai oleh pewarnaan kuning pada kulit dan sklera (bagian putih bola mata) akibat akumulasi zat kuning (bilirubin) yang berlebih.

Ikterus neonatorum dapat merupakan keadaan normal (fisiologis) atau sebaliknya merupakan suatu kelainan dan masalah bagi bayi (patologis).

 Apa itu bilirubin?

Bilirubin adalah suatu zat pigmen kuning kecoklatan yang berada di dalam darah, urin ,dan tinja manusia. Bilirubin secara normal diproduksi dalam kadar yang normal. Bilirubin merupakan hasil pemecahan sel darah merah (eritrosit) di dalam limpa yang kemudian menghasilkan bilirubin yang kemudian akan melewati sirkulasi melalui hati dan akan dikeluarkan ke dalam urin dan tinja.

Pada keadaan-keadaan yang mengganggu proses tersebut dapat terjadi peningkatan produksi atau sirkulasi bilirubin, sehingga bilirubin terakumulasi dalam jumlah yang berlebih dalam tubuh dan menyebabkan kuning.

Kapan bayi kuning dikatakan sebagai proses yang normal (fisiologis) atau patologis?

Bayi kuning dikatakan normal (fisiologis) apabila kuning pada bayi baru lahir muncul setelah hari kedua (lebih dari 24 jam) dan kuning tidak bertambah dengan cepat.

Sebaliknya,  bayi kuning dikatakan tidak normal dan bermasalah (patologis) apabila:

  • Kuning timbul dalam kurang dari 24 jam pertama kehidupan
  • Pada pemeriksaan laboratorium terjadi peningkatan/akumulasi bilirubin serum >5 mg/dL/hari dan/atau Bilirubin total serum >17 mg/dL pada bayi yang mendapat ASI
  • Kuning menetap sesudah usia 8 hr pada bayi cukup bulan atau sesudah usia 14 hr pada bayi prematur. Bilirubin direk >2 mg/dL

Beberapa faktor yang menyebabkan Ikterus patologis:

  • Anemia hemolitik (sel darah merah banyak yang pecah): ketidakcocokan golongan darah ibu dengan anak (ibu golongan darah O sedangkan bayi golongan darah A, B, atau AB)
  • Ekstravasasi darah (misalnya pada memar atau perdarahan di bawah kulit kepala (sefalhematom))
  • Polisitemia (kadar sel darah merah tinggi)
  • Sumbatan aliran empedu
  • Gangguan fungsi pada hati (hepatitis), dll

Secara garis besar terdapat tiga proses yang dapat menyebabkan kuning pada bayi:

  • Produksi berlebihan (infeksi, perdarahan, anemia hemolitik)
  • Sekresi ↓(bayi kurang menyusu, dehidrasi)
  • Gabungan kedua proses diatas

 Beberapa faktor dapat mempercepat kuning pada bayi:

  • Sesak pada bayi
  • Puasa jangka lama
  • Infeksi
  • Prematuritas
  • Hipoglikemia (kadar gula darah rendah)
  • Riwayat anak sebelumnya yang kuning dan mendapat terapi sinar fototerapi

Bagaimana orangtua mengantisipasi bayi kuning?

Berbagai faktor risiko dapat meningkatkan kejadian hiperbilirubinemia yang berat. Lakukan penilaian terhadap berbagai faktor risiko kuning seperti disebutkan diatas.

Lakukan penilaian tingkat kuning pada bayi secara kasar dengan menekan kulit dengan tekanan ringan untuk melihat warna kulit dan jaringan subkutan (lakukan dalam keadaan pencahayaan yang baik).

Pada tahap ringan kuning hanya terdapat di daerah wajah, bola mata, dan leher. Apabila kuning sudah mencapai dada atau perut apalagi mencapai lengan dan tungkai maka sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.

Periksa kondisi bayi apakah terdapat pucat, memar kulit yang berlebihan, perut membesar, penurunan berat badan, dan tanda dehidrasi guna mengantisipasi penyulit yang mungkin timbul.

 Apa komplikasi dari kadar bilirubin yang tinggi?

Orangtua harus lebih cermat dan teliti apabila anaknya mengalami kuning. Pada keadaan bilirubin yang tinggi, zat bilirubin ini dapat menembus ke otak dan dapat menyebabkan kerusakan sel otak (bilirubin ensefalopati). Pada tahap awal bayi tampak lemah, tidak aktif, dan tidak mau menyusu. Pada tahap selanjutnya bayi dapat mengalami demam,  menangis melengking, dan kejang. Segera bawa ke dokter apabila ditemukan gejala seperti diatas.

Apa yang orangtua perlu lakukan bila anaknya kuning?

Pada prinsipnya adalah segera menurunkan kadar bilirubin untuk mencegah bilirubin ensefalopati. Pada kadar bilirubin yang tidak tinggi dan bayi masih aktif, bayi cukup diberikan asupan ASI atau susu yang cukup. Berikan ASI minimal tiap 3 jam dan pastikan jumlahnya cukup.

Asupan ASI atau susu yang cukup ini sangat penting agar zat bilirubin banyak dikeluarkan melalui urin dan tinja sehingga tidak terakumulasi di dalam tubuh.

Pada kadar bilirubin yang tinggi, penurunan kadar bilirubin harus dibantu dengan terapi sinar (fototerapi) di fasilitas kesehatan dan bila sangat tinggi kadar bilirubinnya, mungkin diperlukan transfusi ganti (penggantian darah bayi) yang harus dilakukan di RS.

Oleh karena itu kenalilah gejala kuning pada si buah hati, dan segera lakukan antisipasi agar tidak terjadi peningkatan kadar bilirubin yang terlalu tinggi dan menyebabkan kompikasi lebih lanjut.

Semoga bermanfaat, salam sehat!

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY