Di Balik Gelaran Sakura Matsuri (4/Habis)

Di Balik Gelaran Sakura Matsuri (4/Habis)

152
0
DI TENGAH STAND: Para tamu undangan saat melintasi bagian tengah stand-stand yang memajang berbagai hal tentang Jepang di Sakura Matsuri. REZZA RIZALDI / KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

Kenangan Terdalam untuk warga Jepang yang Tinggal di Cikarang

Festival budaya Sakura Matsuri 2018 meninggalkan kenangan terdalam bagi warga Jepang yang tinggal di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Musababnya, even musim semi yang menyuguhkan perpaduan antarnegara itu bisa dilihat kembali pada April-Mei 2019. Simak kisahnya?

Laporan Hayatullah, CIKARANG

SUASANA kegembiraan dan tawa lepas  menghiasi Festival Budaya Sakura Matsuri 2018.

Hal itu terlihat dari unggahan (upload, Red) pengunjung yang datang ke City Walk, Lippo Cikarang di media sosial (medsos). Baik instagram, facebook maupun twitter.

Sejumlah spot swafoto yang cukup laris manis adalah pohon sakura, diding berisi lampion, pohon harapan, backdrop kuil dan lainnya. Bahkan, both-both serta artis penghibur pun jadi incaran swafoto.

Keunikan lain even edisi ketujuh ini adalah ajakan membuang sampah pada tenpatnya. Seperti tulisan “aku sama sampah saja tangung jawab apalagi sama kamu” serta “cantik buang sampahnya disini”.

Yeni, warga Cibarusah, Kabupaten Bekasi mengaku senang bisa datang dalam even budaya Jepang.

“Saya kesini dengan saudara sepupu. Dan ini benar-benar seperti di Jepang. Bisa selfie (swafoto), makan khas Jepang, ada Cosplay, dan Kimono,” ujar dia.

Yeni berharap kegiatan seperti ini bisa sering digelar untuk lebih mengetahui budaya negara tetangga.

“Coba agak lama dikit, dan intensitasnya bisa dua atau tiga kali dalam setahun,” imbuh dia.

Hal senada diutarakan Tina. Pekerja asal China yang telah lama tinggal di Cikarang itu mengaku sengaja datang untuk melihat aneka makanan khas Jepang. Ia rupaya telah menunggu lama untuk gelaran seperti ini.

“Lihat-lihat kak, kan ini acaranya tahunan ya. Mau makan udon sekaligus jalan-jalan,” bilang dia.

Tina berharap kegiatan ini bisa digelar beberapa kali dalam setahunnya. Sehingga kerinduannya dengan budaya Jepang bisa dirasakannya.

“Maunya sih ada beberapa kali supaya sering jalan,” tukas dia. (*/rez)