TKW Terancam Hukum Pancung

TKW Terancam Hukum Pancung

82
0
SERAHKAN BERKAS: Tabroni (suami Aan) menyerahkan berkas-berkas ke Kadisnaker Karawang, Ahmad Suroto. ARIE FIRMANSYAH / KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

Diduga Terlibat Pembunuhan di Abu Dhabi

KARAWANG – Mengerahkan daya politik, pemerintah berupaya membebaskan Aan Binti Andi Asip (40), seorang Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Karawang yang terlibat pembunuhan 5 orang di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab terancam hukuman pancung.

“Yang bersangkutan sudah sidang dan divonis hukuman pancung. Kementerian sedang mengerahkan seluruh sumber daya politik untuk melobi pemerintah Uni Emirat Arab,” kata Kepala Dinas Tenagakerja dan Transmigrasi (Disnaker) Karawang, Ahmad Suroto kepada Karawang Bekasi Ekspres saat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (9/4).

Menurut keterangan Kementerian Luar Negeri, Suroto menuturkan, bahwa Aan merupakan pelaku tunggal. Adapun pria Bangladesh yang disebut sebagai kekasih Aan tidak terlibat langsung pembunuhan itu. Hingga saat ini, belum jelas motif Aan melakukan tindakan keji tersebut. “Kami belum dapat informasi detail. Kabar yang kami terima masih minim, yang jelas Aan dinyatakan sebagai pelaku tunggal,” terangnya.

Lanjut Suroto, saat ini Aan sedang menunggu eksekusi mati di penjara Al Wathba, Abu Dhabi. Sementara itu, Pemerintah Daerah (Pemda) Karawang tidak diam dengan mengirim surat kepada kementerian luar negeri supaya memberikan pendampingan hukum kepada TKW asal Tirtajaya tersebut.

“Masih ada peluang (tidak dipancung). Kita upayakan untuk naik kasasi. Karena korbannya bukan warga Uni Emirat Arab, Jadi ada kemungkinan diampuni raja,” bebernya.

Menurut Suroto, Aan berangkat ke Abu Dhabi pada 13 September 2013 lalu. Ia tercatat sebagai TKW legal. Disponsori oleh Alek Amrullah, Aan diberangkatkan oleh PPTKIS Falah Rima Hudaity Bersaudara.

Selama satu tahun, Aan bekerja di rumah seorang warga Emirat. Pada 2014 ia pindah majikan. Setelah 2 tahun bekerja di majikan baru, keluarganya di Karawang hilang kontak.

“Sejak 2016, keluarga tak mendapat kabar. Saya kaget begitu dengar istri saya dinyatakan terlibat pembunuhan,” tutur Tabroni (61), suami Aan saat ditemui di Kantor Disnakertrans Karawang.

Dengan kabar istrinya yang terancam hukuman pancung di Uni Emirat Arab membuat dirinya terpukul. Keluarga merasa kabar jika Aan membunuh 5 orang di perantauan tidak masuk akal. “Saya masih nggak percaya. Istri saya cenderung pendiam dan penyabar. Nggak mungkin melakukan itu (membunuh 5 orang),” tuturnya.

Di Karawang, Aan meninggalkan seorang suami dan seorang putri yang masih remaja. Tapi, kata Tabroni, sejak umur 10 tahun, putrinya tidak pernah bertemu ibunya yang bekerja di Abu Dhabi. “Dia sangat ingin bertemu ibunya. Selalu tanya kapan mamah pulang. Komunikasi sama saya dan anak paling lewat telepon,” imbuhnya.

Tapi hal itu hanya berlangsung selama 3 tahun. Di penghujung 2016, Aan tiba-tiba berubah. Ia, kata Tabroni tak lagi rutin menghubunginya. “Nomornya juga tidak aktif saat saya hubungi. Tiba-tiba nggak ada kabar sejak itu,” jelasnya.

Sekitar 2017, sebuah nomor tak dikenal menghubungi Tabroni, ternyata, kata Tabroni, itu adalah nomor kontak Aan yang baru. “Dia lalu ngirim uang Rp 1 juta untuk biaya sekolah anak. Dia juga cerita kalau tasnya dicuri. Semua uangnya hilang,” katanya.

Saat bercakap bersama Aan, Tabroni menawarkan istrinya untuk bicara pada anaknya. Tapi dia tidak mau, sejak pembicaraan itu, Aan mulai sulit dihubungi. Tabroni tak bisa menghubungi istrinya. Di sisi lain, kata Tabroni, putrinya mulai merasa sakit-sakitan. “Dia ngedadak susah makan. Saat malam tiba-tiba nangis kangen ibunya,” ungkapnya.

Akhirnya pada akhir Maret 2018, ia kaget saat menerima sepucuk surat dari BNP2TKI. Di surat itu diceritakan jika istrinya adalah tersangka pembunuh 5 orang di Abu Dhabi.

Saat itu, Tabroni memutuskan untuk merahasiakan persoalan hukum istrinya kepada putri mereka. “Saya tak tega kasih tahu anak. Dia masih kecil. Tapi kemarin akhirnya saya beri tahu dia,” tandasnya.

Aan ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan berencana pada 7 Desember 2017. Sekitar 2 bulan kemudian, KBRI Abu Dhabi berhasil menemui Aan di penjara Al Wathba pada 1 Februari 2018. 15 hari kemudian, jaksa penuntut umum setempat mengirim surat kepada KBRI Abu Dhabi jika Aan ditetapkan sebagai tersangka pembunuhan. Tabroni berharap pemerintah Emirat meringankan hukuman perempuan 40 tahun itu. Ia pun bingung dan memasrahkan urusan itu kepada pemerintah. (rie/rez)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY