Dangdeur Komitmen Bangun 30 Rutilahu

Dangdeur Komitmen Bangun 30 Rutilahu

44
0
LIHAT LOAKSI: Kades Dangdeur, Tatang Taryana melihat pembongkaran rumah milik Aju (36), seorang warga pekerja harian lepas di Kampung Sindang Reret RT 10/03, Desa Dangdeur, Kecamatan Bungursari,  Senin (9/4). YUSUP BACHTIAR/ KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

PURWAKARTA– Komitemen Pemerintah Desa Dangdeur, Kecamatan Bungursari dalam menyelesaikan persoalan-persoalan rumah tinggal tidak layak huni (Rutilahu) dibuktikan dengan karya  nyata.

Pemdes juga melibatkan warga masyarakat sekitar dalam proses pembangunannya.

Kades Dangdeur, Tatang Taryana mengatakan pihaknya sudah memabangun sekitar 24 rumah tidak layak huni di desanya. “Kita sudah menyelesaikan 24 rumah tinggal tidak layak huni, 20 diantaranya merupakan program bantuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sementara itu 4 diantaranya merupakan bantuan dari kita,” ujarnya Ketika ditemui disela-sela melihat pembongkaran rumah milik Aju (36), seorang warga pekerja harian lepas di Kampung Sindang Reret RT 10/03, Desa Dangdeur Kecamatan Bungursari,  Senin (9/4).

Dikataknya sekitar enam lagi rumah warga di Desa Dangdeur pada saat ini akan di bangun melalui program desa, pada tahun yang lalu pernah dilounching oleh Pemdes.” Mudah-mudahan saja ketiga puluh  rumah warga dapat selesai dibangun, sebelum habis masa jabatannya  sebagai Kades di Dangdeur,”imbuhnya.

” Pemdes sudah membangun dua puluh empat rutilahu milik warga, sisanya sebanyak 6 rumah lagi akan kami bangun. Minimal ada suatu kebanggaan tersendiri dan ini sebagai kenang kenangan dari saya, ketika habis masa tugas sebagai Kades,” sebut  Kades.

Sementara itu Aju pemilik rumah, mengaku bergembira gubuknya di bangun oleh Pemdes Dangdeur.

“Entah apa yang mesti saya katakan, yang jelas saya sangat bangga, atas nama keluarga, saya mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas bantuan dari pemerintah desa, berkata Pak H. Tatang Taryana Kades saat ini, apabila di bangun sendiri, terus terang saja saya tidak mampu karena pekerjaan saya hanya sebagai buruh kasar lepas. Belum lagi saya mesti membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, membiayai sekolah anak dan membeli susu formula untuk bayi,” aku  Aju sambil menitikkan air mata dan bangga dengan jerih payahnya dari Pemdes dan warga yang membantu pembangunan gubuk reyotnya. (cr 50/taj)

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY