Tujuh bulan bekerja di Malaysia almarhumah Ibu Warsih keluhkan perlakuan majikan

68
0
BERBAGI

PURWAKARTA – Hingga saat ini pihak keluarga masih bertanya – tanya soal sebab kematian almarhumah Warsih ( 46) Tenaga Kerja Indonesia ( TKI ) asal Kp Babakan RT 30 RW 9 Desa Daragdan Kecamatan Daragdan Kabupaten Purwakarta, yang dipulangkan jenazahnya oleh BNP3 TKI pada hari Jumat, ( 6/4) kepada pihak keluarga.

Almarhumah Warsih merupakan anak kedua dari empat bersaudara pasangan suami istri Mahmun (74) dan Akem (68). Mahmun yang bekerja sebagai buruh tidak tetap membuatnya hidup jauh dari kecukupan. Keduanya bersama  ke empat anaknya tinggal digubuk berukuran 3 X 4 meter persegi.

Namun kepulangan jenazah almarhumah Warsih masih menyimpan misteri bagi keluarga, sebab dan akibat kematian meninggalkan pertanyaan, kenapa sampai meninggal. Dan yang membuat sedih keluarga, pihak majikan malah menginformasikan alhamarhumah meninggal karena depresi soal uang dan berakhir bunuh diri.

Jepri ( 26) putra ke empat almarhumah ketika ditemui KBE mengaku masih menganjal dengan kematian ibunya. Ia merasa kuatir dengan almarhumah selama bekerja di Malaysia sebagai TKI. Pasalnya kata Jepri, selama bekerja sebagai asisten rumah tangga di Malaysia selalu mengeluhkan perbuatan tidak baik pihak majikan.

Bahkan, 5 hari sebelum almarhumah dikabarkan meninggal, sempat berkomunikasi dengan dirinya. Almarhumah mengeluhkan kalau majikanya mengancam akan membunuhnya bahkan akan membuang ke jurang.

“Ibu saya mendengar semua percakapan majikan, karena mungkin dianggap ibu saya tidak bisa bahasanya, padahal ibu sudah mengerti semua bahasa yang diucapkan, ” ujar Jepri, Minggu ( 8/4).

Sampai saat ini menurut Jepri dirinya dan keluarga termasuk kedua orangtua almarhumah Warsih Bapak Mahmun (74 ) dan  Ibu Akem (68) masih ingin mencari tahu sebab meninggalnya almarhumah ibu tersayang.

“Secara resmi penyebab kematian ibu, kami pihak keluarga belum mendapatkan informasi yang jelas. Bahkan ketika jenazah datang yang diperbolehkan melihat bagian wajah saja,” terang dia diamin saudara lainya Maman.

Belum Terima Hak

Selain soal kejelasan informasi menyangkut kematian almarhumah Warsih, pihak keluarga dan ahli waris juga belum menerima hak almarhumah, baik soal gaji, santunan dari PJTKI, Pemerintah dalam hal ini BNP3 TKI, termasuk asuransi tenaga kerja yang seharusnya bisa diterima oleh pihak ahli waris dalam hal ini putra dan putri almarhumah Warsih.

Menurut Jepri dan Maman, pihak BNP3 TKI terkesan gesa – gesa setelah mengantarkan jenazah almarhumah ibunya. Termasuk informasi berkaitan dengan seban meninggalnya ibunya. Ia mengaku gelap informasi, sehingga membuat binggung keluarga.

Termasuk kata Jepri pihak keluarga belum menerima informasi soal hak hak yang harus diterima oleh ahli waris, karena memang pihak BNP3 TKI tidak menginformasikan hal itu. Sebagai ahli waris, keluarga baru menerima uang sebesar Rp 6 juta rupiah, nilai uang sebesar itu masih dipotong untuk keperluan pemulangan mobil jenazah.

“Uang Rp. 6 juta ini katanya dari pihak majikan, untuk ngurus jenazah. Dipotong untuk biaya pengiriman jenazah termasuk sopir dan mobil ambulance habis sekitar Rp. 3 juta, “terang dia.

Sementara itu pihak majikan di Malaysia, Suzane Ng mewakili keluarga ketika dimintai keterangan koran ini mengatakan, pihaknya meminta maaf atas kematian almarhumah Warsih, ia sampaikan memperlakukan almarhumah dengan baik selama bekerja di rumahnya.

“Kami minta maaf atas kematian Ibu Warsih, kami perlakukan dia dengan baik, tanpa ada pertengkaran atau perselisihan,” katanya.

Ia juga jelaskan sudah serahkan gaji dari almarhumah Warsih, dan meminta agar diserahkan kepada pihak putranya sebagai ahli warisnya.

“Soal komunikasi, Ibu Warsih kami ijinkan untuk komunikasi dengan putranya satu bulan sebanyak 2 kali berbicara,” aku Ng.(ctr).
CATUR AZI/ KARAWANG BEKASI EKSPRES
KETERANGAN :
DUKA : Jepri anak ke 4 almarhumah Warsih bersama kakek neneknya Mahmun dan Akem masih menyimpan duka mendalam.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY