Pendalaman Kitab Kuning, Cara Dedi Mulyadi Perdalam Khazanah Keislaman Pelajar Jawa Barat

Pendalaman Kitab Kuning, Cara Dedi Mulyadi Perdalam Khazanah Keislaman Pelajar Jawa Barat

73
0
BERBAGI

PURWAKARTA – Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi berkomitmen melanjutkan program pendalaman kitab kuning ke tingkat Jawa Barat. Program ini sudah efektif dilaksanakan di Purwakarta sejak 23 Februari 2017.

Rais ‘Aam PBNU sekaligus Ketua Umum MUI Pusat, Kiai Ma’ruf Amin langsung meresmikan program untuk pelajar SD hingga SMA itu.

“Iya program itu untuk SD sampai SMA. Sebelum jam pelajaran yang termaktub dalam kurikulum dimulai, ada pendalaman Kitab Al Qur’an dan kitab kuning bagi pelajar muslim. Untuk non muslim, kita ada program mendalami kitab agamanya masing-masing,” kata Dedi di Purwakarta, Rabu (4/4/2018).

Penerapan program tersebut bukan tanpa dasar. Mantan Bupati Purwakarta dua periode itu memandang kitab kuning dibutuhkan untuk pendalaman khazanah keislaman. Berbagai pendapat para mujtahid baik semadzhab maupun beda madzhab terdapat di dalamnya.

Sebagai kader Nahdlatul Ulama, Dedi Mulyadi sangat memahami bahwa dalam kitab kuning terdapat narasi ajaran tentang ibadah dan mu’amalah. Selain itu, tata kelola perniagaan, etika dan maqaasidusy syari’ah (maksud substansi dasar syari’at) juga termaktub secara jelas dan bernas.

“Kitab kuning ini salah satu sumber pengetahuan dalam Islam. Ini sarana pembentukan karakter dalam berbagai aspeknya. Saya kira karakter atau akhlak itu kan puncak ajaran Islam. Makanya, pendalaman kitab kuning menjadi penting,” ujarnya.

Pemahaman Holistik

Karena berbagai aspek pengajaran itulah, menurut Dedi, pelajar di Jawa Barat akan dihadirkan pada pemahaman holistik Islam. Sehingga, kue pengetahuan yang mereka dapat tidak sepotong-sepotong. Implikasinya, tercipta kearifan memahami perbedaan dalam diri pelajar muslim Jawa Barat.

“Nanti pemahaman keislaman pelajar muslim Jawa Barat tidak sepotong-sepotong. Mereka memahami setiap tema yang tersaji secara holistik. Perbedaan pendapat akan menjadi hal biasa bagi mereka,” katanya.

Hal senada pernah diungkapkan oleh Rais ‘Aam PBNU sekaligus Ketua Umum MUI Pusat Kiai Ma’ruf Amin. Menurut keturunan ke-14 dari Syaikh Nawawi al Bantani itu, kitab kuning dapat menggerus paham separatis dan fundamentalis dalam Agama Islam.

“Kalau anak-anak belajar kitab kuning sejak dini, habislah sudah paham separatisme, radikalisme dan fundamentalisme. Kitab kuning tidak melulu bicara disiplin ilmu fiqih. Kitab kuning juga mengajarkan kasih sayang dan penghormatan sesama makhluk hidup,” ujarnya saat meresmikan program tersebut di Purwakarta. (ctr)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY