Pagar Sekolah Rusak, Siswa Manfaatkan untuk Membolos

Pagar Sekolah Rusak, Siswa Manfaatkan untuk Membolos

70
0
MENUNJUKKAN: Seorang guru smpn 1 Lemahabang saat menunjukkan kondisi pagar sekolah SMPN 1 Lemahabang yang baru tertutup 40 persen, dan kerap dimanfaatkan oleh siswa sebagai jalan untuk membolos. WAHYUDI/KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

 

LEMAHABANG Perilaku buruk pelajar dari SMPN 1 Lemahabang yang kerap membolos tengah jadi sorotan. Pasalnya, pada operasi yustisi yang digelar Polsek Lemahabang, Satpol PP,  dan Trantib kecamatan pada akhir pekan lalu, terjaring sebanyak 20 pelajar asal sekolah tersebut yang berada di luar gedung sekolah saat jam belajar masih berlangsung.

Saat dikonfirmasi, Kepala SMPN 1 Lemahabang, Samsudi menjelaskan, kondisi pagar sekolah yang belum tertutup rapat menjadi faktor utama anak-anaknya bebas keluar masuk di saat jam belajar masih berlangsung. Dijelaskannya, dari panjang pagar 100 meter, baru dibangun sekitar 40 meter dan sisanya dibuat dari pagar sementara dengan bahan baku bambu.

“Razia yustisi kemarin itu atas dasar permohonan saya, tujuannya untuk memberikan efek jera kepada anak-anak nakal yang kerap membolos,” ungkap Kepsek SMPN 1 Lemahabang, Samsudi kepada KBE, Senin (26/3) di sekolah.

Dijelaskan Samsudi, pihaknya tidak pernah mengizinkan anak didiknya bebas keluar masuk atau membolos saat jam belajar sedang berlangsung. Dikatakannya, ia sudah menyiapkan empat penjaga sekolah untuk meminimalisir anak-anak yang bermaksud membolos. Namun, lantaran gedung sekolah belum tertutup rapat oleh pagar, anak-anak jadi bisa bebas keluar masuk melalui celah-celah pagar yang belum selesai dibangun.

“Jumlah siswa kami itu ada 1.365 dari 35 kelas, jumlah penjaga ada 4 belum lagi wakasek dan guru-guru yang terus memantau, kami sudah berupaya maksimal untuk meminimalisir kenakalan pelajar di sekolah kami, termasuk bekerjasama dengan Polsek dan Pol PP,” tandasnya.

Sementara, menurut Ketua Komite SMPN 1 Lemahabang, Ojang Tata mengatakan, pihaknya sudah berulang kali mengajukan permohonan pemagaran kepada Dinas Pendidikan (Disdik) serta beberapa dinas terkait. Namun, hingga kini belum ada realisasi dari pengajuannya itu. Padahal, kata Ojang, pemagaran itu sangat diperlukan, mengingat perilaku anak akhir-akhir ini gemar membolos.

“Kita sudah ajukan untuk pemagaran diselesaikan 100 persen, tapi belum ada respon yang positif, kita disuruh menunggu hingga 2019 atau 2020,” jelasnya.

Masih kata Ojang, adapun anak-anaknya yang kemarin terjaring dalam operasi gabungan Polsek Lemah Abang itu merupakan hasil dari kerjasama anatara sekolah dengan pihak keamanan. Tujuannya, imbuh Ojang, memberikan efek jera kepada para pelajar, juga meminimalisir tindak kenakalan pelajar di luar saat jam belajar masih berlangsung.

“Nah yang kemarin itu sudah kami sampaikan sebelumnya, itu meruapakan hasil kerjasama kami dengan pihak keamanan, sudah ada MoU nya dan tujuannya baik. Kalau ada berita yang beredar anak kami tertangkap dengan minuman keras, itu tidak benar,” pungkasnya. (wyd) 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY