Dedi Mulyadi Layani Permintaan Warga Korban Banjir Bandang di Cirebon 

Dedi Mulyadi Layani Permintaan Warga Korban Banjir Bandang di Cirebon 

116
0
DIALOG: Dedi Mulyadi saat berdialog langsung dengan warga korban banjir Cirebon. CATUR AZI/ KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

CIREBON – Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urur 4 Dedi Mulyadi melayani permintaan warga korban banjir bandang di Cirebon. Lokasi banjir bandang tersebut beralamat di Desa Ciledug Lor, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon

Dia datang ke lokasi itu atas permintaan warga melalui akun sosial media miliknya pada Rabu (28/2).

Sampai di lokasi, pria yang lekat dengan iket Sunda berwarna putih itu langsung dikerumuni warga korban banjir. Mereka meminta sejumlah bantuan kepada Dedi.

“Pak tolong beliin alat mandi pak, kami kesulitan disini untuk cari alat mandi. Alat sekolah anak-anak pun terendam pak,” kata Budi Sutrisno (46), salah seorang korban.

Spontan, permintaan berupa alat mandi dan alat sekolah untuk anak-anak dipenuhinya. Ia meminta koleganya untuk memborong sejumlah barang di toko kelontong setempat.

Kepala Dusun Ciledug Lor, Sudin (40) menceritakan banjir bandang tersebut datang secara tiba-tiba. Air bah langsung menerjang rumah warga dan berbagai macam tanaman pertanian di wilayah tersebut. Dalam waktu hitungan jam, tak kurang dari tujuh desa terkena dampak bencana alam itu.

“Ini baru surut, rumah-rumah warga sampai tenggelam,” ujarnya.

Sementara itu, Dedi Mulyadi mengungkapkan keprihatinannya kepada seluruh korban banjir. Dia hadir di lokasi tersebut bersama salah satu tokoh Pesantren Benda Kerep, H Dudung. Kepada warga, ia mengatakan bahwa kehadiran dirinya bukan dalam rangka kampanye.

“Saya turun prihatin dengan kejadian ini. Semoga warga tabah dan ini tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan kampanye saya,” katanya.

Solusi Jangka Panjang

Di tengah kerumunan warga, Bupati Purwakarta dua periode tersebut mengimbau agar lingkungan dan alam sekitar selalu dijaga. Hal ini berkaitan erat dengan penyebab banjir yang sering diakibatkan oleh kerusakan hutan.

“Pembangunan di daerah hulu tidak boleh merusak hutan. Kalau itu terjadi, maka masyarakat di bagian hilir akan terdampak. Karena itu, pembangunan harus terintegrasi dari hulu hingga hilir,” katanya.

Selain itu, Dedi Mulyadi juga mengungkapkan pentingnya pengembalian fungsi sungai. Aliran air harus terjaga, tidak boleh tersendat oleh sampah dan gundukan tanah. Kedua hal tersebut mengakibatkan pendangkalan sungai. Sehingga, bencana banjir pun terjadi saat musim hujan tiba.

“Sungai harus segera dikeruk, tidak boleh ada pendangkalan. Pemasangan gorong-gorong juga tidak boleh mengganggu aliran air. Jembatan dibuat melengkung agar ketika air sungai besar tidak membentur dinding jembatan,” pungkasnya. (ctr)