Pagi Buta, Mendag Enggar Cek Beras Impor

Pagi Buta, Mendag Enggar Cek Beras Impor

86
0
SIDAK: Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita (tengah) bersama Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti  dengan didampingi Bupati Indramayu Hj Anna Sophana melihat langsung stok beras di Gudang Bulog Tegal Girang-Indramayu, Selasa siang (27/4). MAKALI KUMAR/ KARAWANG BEKASI EKSPRES
BERBAGI

Kunjungi Gudang Beras dan Pasar di Indramayu dan Cirebon

JAKARTA – Selasa pagi (27/2), Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita melakukan peninjauan langsung ke Gudang Bulog Jakarta, dalam rangka melihat beras impor yang didatangkan dari Thailand dan Vietnam.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) telah menerbitkan izin importasi beras sebanyak 500.000 ton yang diberikan kepada Perum Bulog. Namun, beras impor yang akan digunakan untuk menstabilkan harga, hanya bisa didatangkan sebanyak 281.000 ton hingga akhir Febuari 2018.

“Kita lihat beras impor masuk benar masuk di gudang sebagai cadangan. Kapan dikeluarkan nanti pemerintah akan melihatnya,” ujar Enggar, di Gudang Bulog, Jakarta, Selasa (27/2).

Dalam peninjauannya, Enggar didampingi Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi, Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Beras dan Padi (Perpadi) Sukarto Alimoeso.

Dia melanjutkan, dengan kedatangan beras impor ini maka cadangan beras pemerintah di Bulog akan bertambah. Dengan hal itu, maka ketika masyarakat kembali membutuhkan beras tersebut siap digelontorkan melalui mekanisme Operasi Pasar.

“Kita sama Pak Tulus dari YLKI dan Ketua Perpadi melihat beras ini langsung. Di mana beras ini sebagai buffer stock, kita beras impor dipakai untuk cadangan,” tuturnya.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, impor beras sudah disampaikan kepada Kementerian Koordinator bidang Perekonomian dan Kementerian Perdagangan. Namun, dari penugasan sebanyak 500.000 ton, Bulog hanya bisa memasukan kurang lebih 281.000 ton.

Ada beberapa penyebab kenapa beras tidak bisa di impor sebanyak 500.000 ton. Pasalnya, dalam waktu sangat pendek, negara ekspor beras ke Indonesia kesulitan mengumpulkan beras beras.

Selain itu, para eksportir juga butuh waktu untuk mengemas beras yang sudah dikolekting dan disimpan dalam curah. Setelah itu, eksportir beras ke Indonesia harus mencari kapal yang cukup untuk mengirimkan beras tersebut.Tercatat dari 281 ribu ton yang rencananya diimpor, sudah datang 57 ribu ton beras asal Vietnam.

Sekertaris Perusahaan Perum Bulog Siti Kuwati mengatakan, selama Febuari 2018 seluruh beras impor tiba di Jakarta. Di mana dari jumlah beras impor yang sudah tiba sebanyak 57 ribu ton baru dari Vietnam.

Usai meninjau seluruh gudang beras milik Perum Bulog di Jakarta Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita beserta rombongan langsung bertolak ke ke Indramayu dan Cirebon. Menteri Enggar melakukan peninjauan stok beras di Gudang Bulog Indramayu, yakni di Gudang Tegal Girang dan Singakerta-Kerangkeng. Selain itu, Enggar juga mengecek stok dan harga beras di Pasar Baru Indramayu.

Selanjutnya, Menteri Enggar sempat berkordinasi dengan Bupati Indramayu Hj Anna Sophana di kantor Pemkab setempat sambil makan siang. Usai mendapat penjelasan dari orang nomor satu Pemkab kota mangga, Enggar beserta rombongan yang mengendarai dua bus pariwisata itu melanjutkan pengecekan stok dan harga beras di Cirebon. Tiba di Kabupaten Cirebon,  sekitar pukul 14.00, melakukan pengecekan di Pasar Celancang, dilanjutkan pengecekan harga bahan pokok dilanjutkan di Pasar Pagi, Kota Cirebon. Selanjutnya, kunjungan kerja juga dilanjutkan dengan ‎pengecekan stok beras di Gudang Bulog Tuk, Kota Cirebon dan Gudang Beras Ciperna, Kabupaten Cirebon.

Enggar mengatakan, pengecekan dilakukan untuk melihat langsung gudang yang dijadikan tempat penyimpanan beras impor. Di mana ada sekira 261.000 ton beras asal Vietnam dan Thailand tiba di Indonesia hingga akhir Februari 2018.

“Saya ajak Ketum Perpadi, YLKI untuk masuk ke Indramayu, Cirebon lihat sentra gudangnya, karena daftar gudang yang dipergunakan beras impor itu di beberapa tempat,” jelas Enggar.

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, impor beras sudah disampaikan kepada Kementerian Koordinator bidang Perekonomian dan Kementerian Perdagangan. Namun, dari penugasan sebanyak 500.000 ton, Bulog hanya bisa memasukan kurang lebih 281.000 ton.

Ada beberapa penyebab kenapa beras tidak bisa di impor sebanyak 500.000 ton. Pasalnya, dalam waktu sangat pendek, negara ekspor beras ke Indonesia kesulitan mengumpulkan beras.

Selain itu, para eksportir juga butuh waktu untuk mengemas beras yang sudah dikolekting dan disimpan dalam curah. Setelah itu, eksportir beras ke Indonesia harus mencari kapal yang cukup untuk mengirimkan beras tersebut.

Guna mendatangkan beras impor sendiri, diperkirakan butuh dana sebesar Rp 3,6 triliun. Dana tersebut setelah menghitung dari mulai harga beras, bea masuk, asuransi dan beberapa hal lainya yang diperkirakan Rp7.300.

Jumlah tersebut langsung dikalikan jumlah beras yang diimpor. Artinya Rp7.300 dikalikan 500.000 ton beras hasilnya sekitar Rp3,6 triliun. Dana sebesar Rp3,6 triliun nantinya berasal dari kas perseroan. Adapun posisi keuangan kas Bulog saat ini sebesar Rp9,8 triliun.

Jumlah tersebut merupakan akumulasi dari kas Bulog dan juga kreditor. Dimana kreditor yang dimaksud merupakan kreditor resmi dan bukanlah suplayer. (mak)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY